Powered by Blogger.

Sidrap : Berburu Cawiwi, kuliner setengah juta

Ceritanya, sudah dari dua bulan lalu kami merencanakan akan liburan singkat ke salah satu kabupaten yang waktu tempuhnya sekitar 4 jam dari kotamadya Makassar, kabupaten yang terkenal dengan kuliner khasnya: Cawiwi atau burung belibis goreng, namun karena masing-masing dari kami punya agenda yang jauh lebih penting makanya dipending-pending dulu.

Sabtu (06/0413), sekitar pukul satu dan setelah segala urusan kantor selesai kami memulai petualangan kami. Ceritanya sok petualangan biar terdengar kerenlah ya, hehe.. sebenarnya pun saya tidak mendapatkan ijin 100% dari orang rumah, berhubung karena seminggu lalu saya sudah dari Bromo, tapi setelah ditimbang-timbang dan membujuk-bujuk, surat ijinnya keluar juga. Alhamdulillah...

Saya selalu suka ada dalam perjalanan dimana kami lebih banyak menghabiskan waktu diperjalanan, bersama orang-orang menyenangkan yang tak pernah bisa diam dan tidak asik sendiri (baca: gadget-ers). Banyak hal yang kami bahas, kami tertawakan, saling menggoda, setel lagu-lagu mainstream kemudian nyanyi-nyanyi berjama'ah, joget-joget atau malah diam-diam tertidur. Kami ndak jago bahas soalan politik, dan tidak begitu tertarik cerita soalan orang-orang diluar kami, siapa yang paling polos maka dialah yang menjadi bulan-bulanan sepanjang jalan, sampai-sampai kami menemukan satu kesimpulan: Beda tipis antara polos dan lingu, haha..  yah pelan-pelan kami membangun pertemanan yang semakin berkualitas disini

Well, yang bertugas menjadi driver saat pergi adalah Sule, dan pulangnya adalah fuat. Dan sepanjang perjalanan selama kami dikomandoi oleh Sule, kami tak ubahnya seperti karung beras berkilo-kilo dibelakangnya, huft... gaya nyetirnya kampungan! sukses membuat saya dan beberapa teman lainnya sport jantung, untungnya diantara kami tidak ada yang mabok darat.

Saat shalat magrib, kami sudah ada di Pare perbatasan sebentar lagi kami sudah sampai di Sidrap. Rencananya selama di Sidrap kami akan di host oleh Musda teman baik saya semasa kuliah dulu, ya kebenaran dia stay on duty di Sidrap semenjak setahun belakangan ini, kami mendapat panduan gratis walau sering nyasar-nyasar (:p) dan untuk yang cewek2nya dapat tumpangan gratis di kosan dia, another Alhamdulillah ya..

Pukul tujuh lebih, kami tiba di Sidrap dan langsung menuju kosan Musda, menyimpan barang-barang kemudian kembali kemobil. Tujuannya adalah, berburu cawiwi dan penginapan buat anak cowok-cowok yang maha rempong. Seandainya kalian ketahui, cowok-cowok inilah yang jauh lebih manja dan banyak maunya.. haddeh! tapi tak apa tanpa mereka pun perjalanan kami pasti tidak akan semenarik ini.


Sidrap itu adalah satu dari banyak kabupaten di Sulawesi selatan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, tapi jangan salah di daerah ini banyak bertebaran mobil-mobil mahal, rumah penduduknya pun mewah-mewah, saya melihat taraf kehidupan mereka sudah jauh lebih baik. Satu hal yang suram dari kabupaten ini adalah tidak adanya hiburan malam, bahkan untuk mencari hotel pun sangat susah. Hotel terbaik adalah hotel Sidny, itupun sangat biasa dengan fasilitas yang juga biasa tidak sebanding dengan harganya. Penginapan lain, wew... hanya dilihat dari luar saja sudah membuat "merinding" tidak ada kehidupan, hihi.. yang cowok2 kapok! padahal mending juga nginap di parkiran, kemah diatas mobil..

Setelah urusan penginapan selesai kami menuju rumah makan Anugerah, mencari cawiwi tapi sayang kami datang terlambat sudah habis dibungkus oleh bapak-bapak yang sedang menikmati burung langka itu. Tapi karena perut kami benar-benar lapar kami pun memilih memesan burung lain yang direkomendasikan oleh si ibu pemilik warung, namanya burung Lasowe. Cara pengolahannya sama, yang berbeda cuman bahan dasarnya saja. Rasanya? hmm... daginya ngotot sih tapi enak, semakin enak karena ditemani oleh sop santan dan sambal mentah. Untuk 7 porsi, kami membayar Rp. 198.000,-

Setelah santap malam, kami tidak kemana-mana lagi. Kembali ketempat tinggal masing-masing, apalagi kan hujan... kami istirahat untuk mencari cawiwi keesokan harinya, pokoknya harus dapat. Titik.

Minggu (07/0413), pukul enam pagi kami sudah siap-siap. Rencananya akan ke Lejja, permandian air panas yang terletak di Kab. Soppeng, sekitar 1 jam dari Sidrap. Awalnya kami tidak ada rencana ketempat ini, tapi semalam direkomendasikan oleh musda dan jadilah kami meng-iyakan, toh rumah makan yang juga menyediakan cawiwi terletak searah dengan Lejja. Sebelum sampai di Lejja, kami melewati satu tempat dimana terdapat objek wisata rumah mandar. Singgahlah kami disana sekedar buat narsis-narsisan, hanya sebentar dan kami kembali jalan menuju Soppeng, we go to Lejja!


Lejja, sudah sangat terkenal sebagai icon pariwisata di Kab. Soppeng, tempat permandian air panas alami yang selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Untuk masuk ke area permandian kita harus melewati jalan panjang berkelok curam, jalannya pun sempit dan dikelilingi vegetasi hutan yang tumbuh liar. Untuk bisa masuk kita harus membayar Rp.6.900/org, didalam kita akan disambut oleh banyak kolam dengan beragam tingkat kedalaman. Semakin keatas suhu kolam semakin panas, untuk mereka yang mau berendam ya tinggal menceburkan diri kekolam dan untuk yang hanya mau basah-basahan cukup menenggelamkan kaki ditepi kolam yang dialiri air langsung dari gunung. Lucu sih ngeliat aliran air serupa airterjun tapi berasap, dan ketika saya sentuh beuh panasnya menusuk.


Diantara kami tidak ada yang mandi air panas, kami menikmati tempat ini dengan duduk santai menenggelamkan kaki dan foto-foto. Tempatnya sejuk..


Dari lejja kami bergegas menuju rumah makan yang katanya juga menjual cawiwi. Namanya rumah makan Sedap, hmm.. tempatnya sederhana, dan belum banyak pengunjung yang datang. Kami pesan untuk tujuh orang dan kami menunggu selama 30 menit untuk bisa menikmati kuliner khas Sidrap itu. Dan tiba saatnya makanan yang kami cari-cari dan nanti-nanti keluar, tadaaaa... hmm... sama saja sih dengan burung yang semalam. Untuk penyajiannya kami mendapatkan masing-masing satu porsi sop, sambal dan nasi. Cara pengolahannya pun sama, yang berbeda adalah untuk Cawiwi ini memang dagingnya penuh dan tidak begitu banyak tulang. Gimana ya menjelaskannya, pokoknya enak sih tapi tidak jauh lebih enak dari burung yang kami sudah santap lebih dulu. Yang mengejutkan adalah, untuk 7 porsi dimana kami berhasil menghabiskan 22 potong burung (paha dan dada) kami harus membayar senilai Rp. 462.000, harga yang membuat kami terkejut-kejut... buset, muahaaal! dan ini benar-benar tak terbayangkan.

Dan harga yang mengejutkan inilah yang pada akhirnya menjadi bahan candaan selama perjalanan pulang, dan tetap eksis dibahas hari ini dikantor. Hahaha... kuliner setengah juta. Ampumma kodong :p

9 comments

  1. sekali ji ke sidrap...dan memang itu cuwiwi enak sekali...untung waktu itu dapatnya gratis :D

    ReplyDelete
  2. wahhh mahall bangettt itu skali makan stengah juta..hihi..
    mana donk foto cuwiwi nya.. penasaran mau liat penampakannya.. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. dikamera teman, dan belum dapat copiannya... hehe

      Delete
  3. tempatnya enak ya, asri. sayang mahal :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak kok, yang mahal itu makanannya

      Delete
  4. hahaha saya pernah menjadi korban juga di warung sedap.....kuliner cawiwi termahal tuh....

    ReplyDelete
  5. Daerahnya masih sangat alami ya ?
    Pasti disanan udaranya sangat sejuk deh ?

    ReplyDelete
  6. hahaaaaa,,,sy hampir tiap hari mkan cawiwi(belibis)cuman 50-100rb = 2 ekor...

    ReplyDelete