Powered by Blogger.

"hidup itu keras nak, jangan manja!"

Berawal dari obrolan seputar financial plan, akhirnya Ical curhat tentang bagaimana dia menjalani hidupnya dan pandangannya tentang masa depan. Okelah, dia merasa tak perlu bersusah payah untuk hidup.. toh ayahnya meninggalkan banyak untuk dia, pekerjaan yang sekarang dilakoninya pun tak ubahnya hanya sekedar status semata, mengikuti pakem publik bahwa stelah kuliah itu tahapannya ya bekerja. Thats it!

Lantas kenapa dia merasa perlu menceritakan semuanya? Tak lebih karena dia sebenarnya mulai ragu, apakah cara hidup dimana pos untuk gaya hidup lebih besar dari kebutuhan hidup, yang dijalaninya sekarang ini bisa bertahan sampai usianya menjelang senja? Gaji masuk dan habis, begitu seterusnya. Dan apakah sudah waktunya dia memikirkan masa depan tanpa mengingat-ingat bahwa almarhum ayahnya sudah meninggalkan banyak untuk dia?

Saya tak bisa memberikan banyak saran, semakin saya dilibatkan masuk dalam permasalahannya semakin saya yakin bahwa jawabannya cuman satu, mindset! bertanggungjawab-lah atas hidupmu selebihnya saya hanya mengingatkan bahwa dia itu Laki-laki.

Hmm.. terkadang saya merasa bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang pernah merasakan kurang, merasa cukup dan Alhamdulillah diberi lebih. Setidaknya saya tahu, bahwa hidup itu untuk diperjuangkan.. bukan semata untuk dinikmati. Dan ketika perjuangan itu berbuah manis, kita pun akan merasakan kenikmatan yang sensasinya sudah jelas berbeda.

"yah, paling tidak kau ngertilah boy.. bagaimana seharusnya kau akan mendidik anakmu kelak"

~sym

2 comments

  1. sama, kehidupan orang tua yg kurang secara ekonomi membuat anak2nya jadi bertanggung jawab, gak manja. kehidupan memang harus dijalani dg sebaik2nya

    ReplyDelete
  2. mana bisa
    aku kan anak manja...

    *mandinya jarang

    ReplyDelete