RIP Zein

Karena yang hidup pasti akan mati, jadi apa sebenarnya tujuan kita dihidupkan?

Pagi-pagi kemarin, saya dapat telepon kalau anak om kumis meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..

Kabar ini terlalu mendadak untuk saya pribadi, baru saja satu hari sebelumnya saya tahu kalau Zein masuk rumah sakit, saya belum sempat menjenguk sampai saya dapat kabar kalau Zein sudah "tidak ada". Dari sini saya diingatkan lagi bahwa jangan pernah menunda-nunda untuk menjenguk orang yang sedang sakit, jangan pernah menunda-nunda jika ingin saling berkunjung untuk menjalin silaturahim.. mungkin dengan berbagi perhatian dan tawa bisa melunturkan dosa dari kesalahan yang pernah ada. Membuatnya lebih baik lagi, tapi sebenar-benarnya minta maaf adalah kepada Allah. Karena manusia masih bisa mengingat bahkan ketika mulutnya berucap sebaliknya.

Melihat Zein yang tertidur kaku dibalik kain kafan membuat saya lemas seketika. Saya mendoakannya, mendoakan Om kumis dan istri. Kemudian mata saya tak lepas memandangi istri om kumis, dia begitu sedih kehilangan putra pertamanya.. pada semua orang yang datang memeluknya dia hanya berucap "tidak adami zein..." dengan air mata yang tak henti mengalir. Kehilangan itu menyakitkan bagi siapapun, tapi ketika kita melihat tangisan seorang Ibu yang kehilangan anaknya diusia yang masih sangat muda, yang telah dirawatnya lebih dari 20tahun lamanya.. akh! Begitu munusuk hati. Tiba-tiba saya merasa begitu egois, merasa tidak sepantasnya larut dalam sedih atas kehilangan seseorang yang sebenarnya bukan milik saya. Bahkan jika seseorang/sesuatu itu kita miliki sekalipun kita tidak berhak untuk membuatnya tetap ada..

Dan air mata sayapun tumpah, melihat om kumis yang terisak dalam. Yang saya tahu dia kuat, tapi kali ini dia menangis sesenggukan.. hanya bisa berucap sabar, mengelus punggungnya dan memeluknya. Dia terluka, pasti. Semoga tidak parah, karena anaknya bukan hanya Zein..

Selamat jalan Zein, berbahagialah banyak air mata yang mengantarmu.

~sym

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

2 comments:

  1. Innalillahi wainna ilaihi ra'jiun.
    Jodoh, mati, rejeki sudah digariskan. Kalau tiba saatnya kematina, tidak ada seorangpun yang dapat mengajukannya atau mengundurkannya.

    ReplyDelete
  2. Innalillahi wa innailahi rajiun...semoga dilapangkan kuburnya, diberi kesabaran keluarga yang ditinggalkan...

    ReplyDelete