Cuap-cuap soal financial, edisi 1/2 curhat..

Untuk Musda, ini salah satu upaya saya untuk "mempengaruhi"

Musda and Me :)
Saya baru ingat kalau saya ini anak ekonomi, akuntansi pula, yang sangat payah dalam hal hitung-hitungan keuangan pribadi, yang sok jago hitung-hitung keuangan orang yang nilainya milyaran..

Saya mulai bekerja sekitar tahun 2005, awal-awal kuliah. Saat liburan semester saya coba mendaftar menjadi pramuniaga disalah satu toko buku besar dikota saya. Dapat gaji pertama, Alhamdulillah.. senangnya minta ampun. Saya bukan anak orang kaya, makanya hanya dengan bekerja saya bisa membeli apa yang saya ingin, saya bisa mentraktir orang-orang rumah. Saat itu saya belum juga melek saving.

Saya bekerja hanya 3bulan lamanya, setelah itu fokus kuliah lagi tapi malah lostfokus, saya mulai menikmati dunia kampus diluar perkuliahan.. minat saya yang dari dulu banyak kehal-hal yang sifatnya lebih komersil menjadi lebih adem ayem. Saya mulai menulis, mulai aktif terlibat di organisasi kemahasiswaan dan benar-benar meluangkan waktu dan fikiran untuk hal-hal tersebut. Tapi jauh didalam hati saya, dalam pikiran saya terancang sebuah konsep untuk mempunyai rumah baca.. otak komersil saya bekerja, saat itu saya fikir kegiatan saya yang selalu menghabiskan waktu dengan teman2 untuk berdiskusi membicarakan satu hal ataukah sekedar membaca buku bisa diwadahi dan diuangkan. Saya sempat menggambarkan konsep tersebut dalam catatan acakadut, tapi sayang hanya sekedar impian semata. Modal tak ada, dan keinginan saya ternyata tak begitu menggebu2. Ide terendap dan perlahan-lahan terlupa.

Tahun 2008, tiba saatnya KKN. Saya ditempatkan diperusahaan yang sama dengan perusahaan saya bekerja saat ini. 2 bulan menjadi mahasiswi KKN dikantor membuat saya semakin sadar, ekspektasi saya tentang dunia perkantoran terlalu wah dan saya menyimpulkan sepertinya saya tak cocok kerja kantoran yang fullday at office.. membosankan!

Tahun 2008, setelah lepas KKN saya coba mendaftar dikantor akuntan publik milik dosen saya. Alhamdulillah saya diterima dan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menghentikan saluran dana dari orang tua untuk biaya sehari-hari, bisa dipake beli hape keren keluaran terbaru, masih bisa dibagi-bagi juga dan errr.. masih saja saya belum melek saving.

Tahun 2010, setelah beberapa bulan tamat kuliah akhirnya saya memutuskan untuk bekerja lebih profesional. Saya keluar dari KAP dan mendaftar diperusahaan yang tadinya saya tolak.. bodohnya! Haha.. waktu memang merubah manusia banyak, kadang malah merubah total! Diperusahaan baru saya mendapat bayaran 4kali jauh lebih besar dari tempat lama. Beban kerja lebih berat juga, dan waktu yang tak lagi longgar. Kali ini saya benar-benar bisa menikmati banyak hal, bisa beli ini beli itu, makan disini makan disitu, jalan-jalan, bisa dibagi-bagi dan yaelah sama saja saya tetap saja belum benar-benar melek saving.

Pertambahan penghasilan belum tentu bisa menjamin hidup yang lebih baik memang, karena akan berbanding lurus dengan pos pengeluaran yang juga semakin besar. Saya kadang heran sendiri, kok bisa dulu saya bisa hidup cukup dengan gaji yang 4kali lebih kecil? Mustinya sekarang dari level cukup sudah masuk sejahtera dan mensejahterakan dong? Saya melihat ada yang ndak beres dengan pola keuangan saya, dan saya pun mulai melirik produk tabungan berjangka dibank tempat saya menyimpan uang.

Yah, saya hanya butuh dikendalikan ternyata. Pelan-pelan saya punya dana yang saya sebut anti gempa karena agak repot untuk pencairannya. Saya membuka dua akun untuk jangka setahun, nilainya 1:10. Dan alhamdulillah hasilnya terlihat, yang lebih kecil saya cairkan sebelum waktunya untuk biaya travelling ke belitong, lalu saya buka lagi dan alhamdulillah cukup untuk biaya jalan ke bromo dan ke Jogja. Yang lebih besar saya alihkan menjadi piutang tidak lancar, tapi peruntukannya jelas untuk mewujudkan "mimpi" keluarga saya yang juga mimpi besar saya.. Wuish, pelan dan pasti  mai drim kam truuu! kalau punya tabungan memang sesuatu sekali..

Kadang saya geleng-geleng sendiri, kalau dari dulu saya melek saving dan lebih bertanggungjawab sama duit mungkin... mungkin saya bisa kaya rayaaa, hehe.. gak lah, paling gak mungkin lebih sejahteralah saya. Punya modal lebih untuk merintis bisnis yang sesuai minat saya dan membuka lapangan kerja baru. Bisa beli properti dan banyak lagi yang mungkin sifatnya lebih memberikan manfaat jangka panjang untuk saya dan keluarga.

Tapi saya menikmati keamburadulan financial saya 3 tahun ini. Saya bertemu banyak orang, saya mendatangi banyak tempat, saya mendapatkan banyak hal baru. Bukankah tidak ada yang gratis didunia ini? Setidaknya sekarang saya benar-benar sadar untuk tidak akan mengulanginya lagi. Menekan gaya hidup konsumtif. Alhamdulillah saya masih ada dilevel bawah, kalau mau dibandingkan dengan teman lain tingkatan saya masih wajarlah ya, setidaknya saya cupu soalan fashion-update, gak begitu tertarik sama produk2 perempuan masa kini yang ternyata adalah siluman penghisap duit. Makanya mereka masih saja heran kok bisa saya begitu hebat menabung? haha.. ya, belum tau dia.. orang sama2 berantakan kok, tapi mungkin saya lebih dulu nyadar bahwa penghasilan saya tidak seberapa. Yah dimana-mana masalah para employeer selalu sama, berapapun gajinya akan selalu terjebak pada dua kata "gaji ndak cukup" dan "untung ada CC", dua hal yang sangat saya hindari... penangkanya cukup dengan banyak-banyakin syukur, dan kurangin utang sana-sini.

Selama kurang lebih 2 tahun produk TRM mengajarkan saya rutin untuk saving, minimal 20% dari penghasilan. Karena sudah merasa expert dalam hal tabung menabung, haha.. sekarang saya belajar dan kembali mengeksplore minat saya untuk berbisnis dan investasi. Yah omongannya sudah kayak milyarder, padahal ya gitu deh.. hehe, bagi saya saat ini adalah saya hanya ingin bertanggungjawab untuk setiap rupiah yang saya hasilkan dan keluarkan. Menyederhanakan lagi gaya hidup, mempertahankannya sampai kapanpun.. bahkan ketika saya punya lima orang anak sekalipun dan sudah tidak lagi bekerja aktif. Saya pernah hidup susah dan bertekad tidak akan membiarkan keluarga saya kembali pada kondisi itu, dan sebisa mungkin tidak membiarkan orang2 disekitar saya pun merasakannya. Gak enak tau!

Sejauh ini saya hanya bisa meneriakkan, ayo melek saving! Melek investasi! khusus untuk investasi saya belum benar-benar terjun, baru sebatas mempelajari produk dan resikonya.. Rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kalau sudah dalam bentuk duit/uang itu ya sudah menjadi tugas kita untuk mengaturnya, biar lebih bermanfaat dan tidak menguap begitu saja.. karena rejeki tak selamanya berbentuk duit/uang, bisa dalam bentuk udara segar, fisik yang selalu fit, jabatan yang bagus dsb...

Uang memang mudah dicari selama kita mau berusaha, tapi bukan hanya itu yang kita harus cari selama kita hidup kan? Seperti yang kak Jun pernah bilang, "kejar duniamu maka dunia dekat.. kejar akhiratmu maka dunia akhirat akan dekat".

Kemanapun kita berlari, semoga Allah selalu menjaga kita agar tetap ada dalam jalur menuju-Nya..

~sym

4 comments:

  1. tapi setidaknya bisa jalan-jalan dan membeli ini itu kan sob. jiwa muda memang begitu. tapi kalau sudah sadar akan pentingnya melek saving ya bagus. pengeluaran memang perlu tapi menabung juga perlu jika belum bisa buka usaha.

    ReplyDelete
  2. bener banget mbak...
    saya merasakan...
    pendapat meningkat, kebutuhan entah tiba-tiba meningkat...
    harus pandai-pandai mengikat tali pinggang....
    berpenampilan sederhana dan hidup sederhana mungkin kuncinya...

    :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.