Powered by Blogger.

Kartu kredit

Intro:

Pada satu kesempatan, saya akan mengatakan tidak suka terhadap sesuatu hal tapi pada satu kesempatan lain, setelah pengetahuan saya tentang sesuatu tersebut bertambah, bisa jadi saya mulai suka.. minimal belajar untuk suka. Mungkin itulah maksud dari pribahasa "tak kenal maka tak sayang"

Oke, sekarang kita masuk ke pointnya!

Well, beberapa saat yang lalu saya dapat telepon dari orang m*nd*r* jakarta, menawarkan saya untuk apply kartu kredit. Saya tolak, karena sepaket dengan produk asuransi dari A*a, sampai saat ini saya belum benar-benar melek asuransi, berminat sih tapi belum begitu mengerti. Lalu berselang dua minggu kemudian saya kembali dapat telpon dari orang m*nd*r* makassar, menawarkan produk yang sama tapi kali ini tidak sepaket dengan produk asuransinya.

Hmm, saya kemudian berfikir.. ambil ndak yah?! Dalam sekejap ingatan saya kembali pada satu obrolan dengan seorang sahabat pada satu malam, waktu itu saya bilang sama dia saya ini anti kartu kredit! Mending kalau mau belanja ya pakai debit saja, pakai uang sendiri kan yah.. dan tidak meninggalkan hutang. Belum lagi beban bulanan yang harus ditanggung dipakai atau tidak, bunga yang menggila terus bagaimana kalau jadi ketergantungan? Gesek sana gesek sini.. Hmm, waktu itu dipikiran saya kartu kredit adalah salah satu momok yang merugikan. Sangat merugikan.

Sahabat saya itu pun memberikan banyak pandangannya, saat itu yah mental-mental saja karena memang belum pernah terfikir apalagi tertarik dengan produk bank tersebut. Tapi ada satu hal yang paling saya ingat dan selalu terngiang-ngiang, saat sahabat saya itu bilang mungkin akan ada kondisi terdesak (semoga tidak ya Allah) dimana saya harus meminjam uang orang untuk bisa menyelesaikannya, dari pada pinjam ke orang lain mending ngambil di kartu kredit. Masalah terselesaikan dan tidak perlu melibatkan banyak orang. Hmm, masuk akal sih. Saya tidak pernah membayangkan ada dalam posisi meminta dengan penuh harap, situasi dimana antara dimengerti dan dikasihani sangat beda tipis. Masih mendinglah pinjam ndak pake ribet dan ribut, walau musti nanggung bunga 3-4%.

Berbekal dari situ saya mulai memikirkan untuk punya kartu kredit, dengan pertimbangan tambahan:

  • Teman-teman saya bilang, sangat-sangatlah susah untuk apply kartu kredit dibank tersebut. Benar-benar ketat, dan jarang ada yang approve. Jadinya mumpung tanpa saya harus mengajukan, saya justru dimudahkan dengan penawaran ini. Dapat bonus bebas biaya administrasi selama satu tahun pulak, hanya perlu verifikasi data yang pernah saya isi saat pembukaan rekening dan TER-PROSES! 

  • Seperti sebuah tantangan pengendalian diri #eaaa, semakin kesini saya semakin tertarik dengan yang namanya perencanaan keuangan, tepatnya setelah "kantong" saya habis terkuras pasca depe rumah, benar-benar mulai dari NOL lagi. Apa-apa serba penghematan disegala pos. Lumayan, apalagi kartu kredit dari bank ini menawarkan banyak promo diskon, ya kalo memang dananya ada, pakai kartunya manfaatkan diskonnya dan tagihannya langsung bayar saja. Sesimpel itu syam? yah semoga..

  • Alasan keamanan, berbekal pengalaman dua bulan lalu kartu debit saya tiba-tiba terblock. Tidak bisa digunakan lagi, dan saya dapat sms dari pihak m*nd*r* untuk segera ke CS bank tempat saya membuka rekening. Saya laporkanlah dan ternyata, kata CS yang cuantik jelita yang melayani saya saat itu, kartu saya ini tanpa sepengetahuan saya data-datanya sudah dicopy saat saya gunakan untuk membayar debit ditoko/warung apalah itu, saya tidak tahu jelas yang mana. Jadi karena dianggap bisa merugikan saya sebagai nasabah mereka, makanya kartu saya itu diblock dan saya dapat kartu baru sebagai pengganti. Ngeri juga yah, setelah kejadian itu saya lebih hati-hati main gesek-gesek, dan demi menjaga uang cash biar selalu kecil saya jadi lebih sering keluar masuk ATM. Ribet! yah mungkin resiko data di "ganggu" orang saat menggunakan kartu kredit pun ada, tapi setidaknya tidak secara otomatis mendebit uang saya yang ada direkening. Masih bisa dicari tahu dulu sebelum benar-benar ikhlas dana terpotong tanpa kejelasan transaksi.

  • Alasan terakhir adalah karena hari gini sudah mulai banyak hal yang justru mudah dengan menggunakan kartu kredit, ya mungkin ini bisa-bisanya bank bekerja sama dengan penjual barang/jasa. Mulai dari pembayaran rumah sakit, beli tiket pesawat sama booking hotel, nonton bioskop setengah harga, dan yang paling istimewa adalah nongkrong di executive lounge dengan minimum payment, terserah kita mau seberapa lama ya sekuat-kuatnya kita duduk menunggu flight.

Ingatan serta pertimbangan-pertimbangan tersebut membuat saya meng-IYA-kan penawaran itu. Saya coba deh, bismillah.. Katanya kalau di approve akan diinformasikan lewat sms tapi kalau tidak ya tidak akan mendapat kabar. Terserah sih, saya kan awalnya gak minat, tapi ada tawaran ya kenapa tidak dimanfaatkan? Yah mau approve syukur ndak approve juga tak mengapa. Saya ndak berharap banyak.

Sepengamatan saya, pegang kartu kredit itu musti kuat iman. Dan gak usah gaya-gayaan, pakai seperlunya dan bayar secepatnya. Bagaimanapun, tidak dibenarkan menggunakan kartu kredit sebagai dana darurat karena sebaiknya dana darurat itu adalah dana segar yang berasal dari "tabungan rutin" senilai sekian persen dari penghasilan. Kondisi darurat kan berarti sedang dalam masalah masak iya diselesaikan dengan membuat masalah baru, baca: hutang. Perkara dunia akhirat bok!!!

Semenjak saya mulai berani masuk dunia hutang-hutangan (nyicil), sekarang doa saya nambah: semoga saat saya diambil oleh-Nya semua utang saya didunia sudah terbayarkan. Saya tidak inginlah meninggalkan beban untuk keluarga dan anak keturunan saya.

Kalo CC saya di approve akan ada postingan lanjutan, tapi kalau tidak ya-su-dah-lah! hehe :)

10 comments

  1. ada gak yang tak kenal maka tak kasih duit...
    :D

    ReplyDelete
  2. saya malah nyesel bikin kartu kredit. selain saya nggak suka ngutang, ternyata ribet buat ngurus komplain ke CS-nya. nggak tahu juga sih kalo di bank yang Syam apply.

    keuntungan kartu kredit yang saya punya sekarang cuma buat beli tiket pesawat yang nggak bisa pake ATM.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah harus banyak timbang2 memang sih, kalau memang gak butuh2 amat ya buat apa krn buang2 duit untuk bayar bebannya

      kalau CC dr bank yg punya banyak promo/kerja sama dg penyedia barang/jasa pastinya menguntungkan, asaaal.. TER-KON-TROL :)

      Delete
  3. Selamat datang di dunia nyata, tempat di mana semuanya terbangun di atas hutang

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, sky jieeee!
      welkaaam welkaaaaaamm :p

      Delete
  4. hemmmm kepikiran buat bikin kartu kredit sih mbak..... emmmm gimana ya tp masih mikir2 sampek sekarang

    ReplyDelete
  5. sapa itu sahabat mu yg ksi saran malam2....????

    ReplyDelete