Powered by Blogger.

Ramadhan kali ini

Mungkin, sepanjang saya masih bisa mengingat hal-hal yang terjadi dalam hidup saya secara mendetail, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang begitu emosional bagi saya pribadi.

Ramadhan diawali dengan kondisi saya yang belum sepenuhnya pulih pasca ribut besar dengan sahabat/adik paling ajaib dalam hidup saya. Kemudian pertengahan Ramadhan saya dikagetkan oleh kabar bahwa nenek saya kritis, saya yang waktu itu masih dikantor langsung minta ijin pulang dalam kondisi badan serta perasaan lemas dan setibanya dirumah Om saya, saya sedikit syok melihat nenek saya terbaring tak berdaya dikelilingi oleh banyak keluarga dengan wajah yang begitu berduka. Saya ketakutan dan saya menangis.

Semenjak hari itu, keluarga dekat saya dari berbagai daerah mulai berdatangan satu per satu, menjenguk nenek saya, meminta maaf kalau-kalau pernah menorehkan luka. Usia nenek saya sudah melampaui usia wajar manusia pada umumnya, 100+, nenek sudah sebegitu lemahnya, tidak lagi bisa berbicara, sudah dihinggapi lupa, hanya satu kalimat yang terus-terus berulang keluar dari mulutnya, La Ilahaillallah..

Selama seminggu berturut-turut, kami sekeluarga berkumpul dirumah om saya, berbuka puasa bersama, sampai lepas taraweh. Diakhir pekan saya sengaja nginap biar tidak bolak balik, disatu sisi saya masih sering bersedih melihat nenek saya yang terbaring tak berdaya, disisi lain saya bahagia karena saya tidak sendirian.

Belum juga soalan nenek saya selesai, pada satu malam kami mendapat kabar bahwa om saya (saudara bapak saya lainnya) masuk rumah sakit, perutnya kembali bermasalah setelah dioperasi 12 tahun yang lalu. Innalillah.. malam pertama saya sempat menjenguk, om saya terlihat mulai membaik, hingga keesokan malamnya selepas taraweh Bapak dapat kabar kalau om saya kritis, kami pun segera kerumah sakit. Setibanya disana situasi benar-benar terasa mencekam, sepupu-sepupu saya berbaris rapi didepan tempat tidur dan terlihat menahan tangis, suster-suster pun memasang tampang panik. Saya sendiri, ya saya akui sampai hari ini saya tidak pernah melihat orang sekarat, maka reaksi saya ketakutan dan menangis. Om saya ini terlihat berjuang melawan sakit, sampai mati rasa dan hilang kesadarannya. Yang membuat saya semakin sedih waktu dia menjabati tangan kami satu persatu, meminta maaf dengan tatapan kosong. Pemandangan yang benar-benar emosional, saya memeluk lengan sepupu saya, anak om saya, yang justru jauh terlihat lebih kuat.

Sampai pukul duabelas tengah malam kami masih standby di rumah sakit, masih menemani om saya yang mulai membaik. Semakin lekat saya pandang wajahnya, menyentuh badannya, om saya ini persis dengan Bapak, serasa melihat dan memegangi bapak sendiri, itu kenapa saya sangat-sangat emosional menemani beliau melewati masa-masa kritisnya. Ya, beberapa tahun ini saya dan om saya ini tak lagi begitu dekat, saya hanya dekat dengan anak-anaknya, tapi bagaimanapun kami ini keluarga dan pernah melewati banyak waktu-waktu menyenangkan dimasa lampau. Membayangkan akan kehilangan membuat dada sesak. Huft!

Keluarga besar inti dari Bapak berkumpul dirumah sakit, minus tante saya yang musti standby di rumah om saya lainnya untuk menjaga nenek yang juga tak kunjung membaik.

Selalu ada hikmah dibalik kejadian, hanya ketika kita mau melihat lebih luas dan dekat. Saya semakin mengerti kenapa kita harus meng-ikhlas-kan apa yang semestinya harus kita lepaskan, toh memang kita tidak berhak atas apapun ciptaannya. Saya mencintai nenek saya, saya mencintai om saya, saya mencintai orang-orang yang ada bersama saya saat-saat saya ada dalam ketakutan akan kehilangan. Saat hati saya menangis tapi tak bisa mengeluarkan suara, hanya air mata yang mengalir deras. Dan sepertinya saya mulai cengeng!

Ramadhan sudah akan berakhir, kondisi nenek saya dan om saya sudah mulai membaik. Segala kondisi pun semakin baik, hati saya. Ramadhan kali ini saya hanya punya 5 hari untuk buka puasa diluar bersama kawan kantor, kuliah, smp dan dua kali dengan customer. Bacaan alqur'an tidak khatam, shalat taraweh yang tidak full diluar "jadwal" saya, yah.. benar-benar sangat jauh dari kata sempurna. Makanya agak sedih pas dengar takbiran, time is over.. kecewa? Pastinya! Semoga Allah tetap mencintai saya dengan segala ketidaksempurnaan cinta saya kepada-Nya.

Tak henti-henti saya berucap terimakasih Allah, untuk segala nikmat yang Kau kirim lewat kesenangan-kesenangan dan kekhawatiran.

~sym

No comments