Nongkrong bareng Odhani

Tiga hari yang lalu, saya dan Odhan menghabiskan malam bersama di salah satu cafe anak muda di Kota Balikpapan. Ditemani penganan manis, minuman hangat dan hujan yang turun hebat, kami duduk manis sambil membicarakan banyak hal. Salah satunya tentang pekerjaan. Dunia kerja.

Hampir tiga tahun lamanya saya kehilangan sahabat saya Odhani secara fisik, beruntunglah teknologi sudah sedemikian canggih, LDR tak lagi jadi masalah. Selepas kuliah dia bekerja di perusahaan milik kakaknya di Jakarta, setelah itu dia sempat bekerja sebagai Auditor salah satu KAP di Jakarta, dan pada tahun 2011 dia memutuskan untuk menerima pinangan om dan tantenya untuk menempati posisi strategis diperusahaan milik om dan tantenya itu di Balikpapan. Diusianya yang tergolong masih muda dia dipercayakan memimpin banyak orang, menangani masalah accounting perusahaan. Terdengar keren memang tapi yang namanya tanggung jawab tidak semudah mengucapkan kata keren; penuh perjuangan doa dan air mata untuk bisa istiqamah, amanah dan mempesonah.

Malam itu pun, untuk kesekian kalinya dia meminta saya untuk bergabung diperusahaan itu. Dan untuk kesekian kalinya pula saya menolak dengan alasan yang sama, saya bukan orang yang pintar dibidang saya. Akuntansi dan saya ibarat kata air dan minyak, susah menyatu. Tapi dia berkeras, dia tidak butuh orang pintar tapi butuh orang yang bisa bekerja dalam tim dan *ehem..* bisa diandalkan. Saya sempat terfikir untuk ikut merantau, tapi tanggung jawab saya jauh lebih besar ditempat yang sekarang yah walau belum sepenuhnya jatuh hati saya tetap memilih untuk tetap setia #uhhuk

Dia begitu membutuhkan siapa saja temannya yang bisa diajak bicara dan diandalkan untuk ditariknya sebagai partner kerja disana. Saling berbagi energi positif, memandang hidup lebih sederhana dan menyenangkan. Seperti itulah kurang lebih yang bisa saya tangkap. Saat ini dia terperangkap dalam pikiran yang rumit tentang setiap keputusan yang dia ambil, tentang bagaimana dia memilih untuk bersikap dalam lingkungannya saat ini, membentuk image, membangun "benteng pertahanan", menciptakan kenyamanannya sendiri, menjadi wanita mandiri dikampung orang lain. Hidup membuatnya terlihat jauh lebih dewasa sekarang, salute..

Saya jadi ingat, waktu kuliah dulu kami sering sekali bertengkar. Mulai dari level rendah, ngambek-ngambekkan sok cuek tak perduli, sampai level tinggi, saling mendiamkan dan merasa tidak butuh satu sama lain padahal sama-sama possesive. Tapi saya rasa jodoh kami cukup kuat, pada akhirnya selalu saling meluluhkan hati juga. Hahaha, kocak! masalalu selalu menyenangkan untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang kembali.


Untuk sahabat saya Odhan, pesan saya cukup sederhana jadilah pemimpin bukan pimpinan. Kuncinya ya yang satu itu, kosmik... saya pun belajar hal yang sama, banyak yang telah saya hancurkan akibat tidak pandai berkomunikasi.
Apa yang kita jalani hari ini disatu sisi adalah sebuah proses, disisi lain adalah sebuah jawaban dari apa yang telah kita upayakan/abaikan dimasa lalu. Jadi seperti yang nabilang bapak es-ye-el, dont stop komandanG! Jalan saja, pasti ketemuji itu jalan keluarnya.. akan selalu ada akhir dari setiap fase sebelum memasuki fase selanjutnya.

Setelah ke Bromo, kemana lagi bagus di? #kodekeras

;)

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

6 comments:

  1. "Apa yang kita jalani hari ini disatu sisi adalah sebuah proses, disisi lain adalah sebuah jawaban dari apa yang telah kita upayakan/abaikan dimasa lalu. "
    Sepakat dan sependapat!

    ReplyDelete
  2. padahal tawaran nya menggiurkan loh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat-sangat menggiurkan malah,
      tapi su-dah-lah..

      Delete
  3. *berpikir keras memecahkan kode...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak usah difikirkan, kodenya hanya untuk teman saya kok

      Delete