Minggu ke sebelas

October 27, 2013

Tiga hari setelah Idul fitri, tanggal sebelas agustus malam, selepas magrib, kami mendapat kabar bahwa nenek meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji'un.. sedih? Pastinya, tapi tidak ada dari kami yang menangis, kami melewati banyak hari berurai air mata melihat nenek taklagi berdaya yang membuat kami harus selalu siap dengan ini. Kami justru dibuat sibuk dengan remeh temeh penguburan nenek yang rencananya akan di makamkan di kampung pada keesokan harinya.

Dan tangis itu pecah seketika, saat sebelum kain kafan akan ditutupkan kewajah nenek. Anak-anaknya, cucu-cucunya, menciuminya dan mendoakannya satu persatu. Baju saya belum kering sempurna setelah memandikan jenasah beliau, dan harus kembali basah saat saya memeluk kencang badan Bapak seraya mengucapkan banyak kata untuk menenangkannya yang begitu rapuh pagi itu, Bapak menangis seperti anak kecil, sesenggukan. Sudah lama adegan seperti ini tak kami lakukan, badan yang terasa begitu asing.

Selepas Dzuhur jenasah nenek dibawa ke kampung untuk dikuburkan. Alhamdulillah banyak yang mengantar. Kami menempuh perjalanan Makassar-Jeneponto kurang lebih tiga jam, saat tiba di area pekuburan, sudah banyak keluarga yang menunggu. Saat nenek dikuburkan saya memegangi tante saya, anak perempuan nenek satu-satunya, kakak tertua Bapak. Orang yang dari semalam terlihat begitu lemas dengan mata yang terus-terusan membengkak. Saya merangkulnya, kencang.
Kenapa kita harus selalu mengingat mati? Supaya kita selalu ingat tujuan kita dihidupkan, diberi begitu banyak nikmat hingga pada akhirnya semuanya akan kita kembalikan pada-Nya.

27 Oktober 2013

Sebelas minggu sudah nenek tidak bersama kami lagi, dan malam ini saya rindu.
Al-fatihah..

~sym

You Might Also Like

0 Comment

Instagram