Cerita perjalanan menuju pantai bara

November 19, 2013

Liburan saya kali ini bisa dibilang cukup mendadak, tanpa perencanaan yang benar-benar matang baik dari saya sendiri maupun teman-teman seperjalanan. liburan yang hanya butuh anggukan "iya" dan dana talangan penuh dari boss. hehe.. sebenarnya rencana akan berlibur sudah ada sejak berminggu-minggu sebelumnya. tempatnya pun sudah jelas, pantai bara. tapi karena belum ketemu waktu bersama yang pass makanya diundur-undur terus dan barulah pada hari jumat (15/11) pagi semuanya sepakat bisa ikut.

Jika kami berangkat sabtu (16/11) pagi, pasti kami akan kesorean tiba dipantai Bara, mengingat waktu tempuh antara Makassar - Bulukumba itu sekitar 3 jam, menuju pantai Bara memakan waktu tidak kurang dari 1 jam. Belum lagi acara cari-cari penginapan, sementara minggu sore kami sudah harus ada di Makassar, boro-boro bisa menikmati liburan yang ada cuman dapat capek karena liburan kejar tayang. Makanya saya mengusulkan keteman-teman bagaimana kalau kita berangkat malam ini saja, nginap dirumah keluarga saya yang terletak di Kab. Jeneponto, waktu tempuh sekitar 2 jam dari Makassar. Besoknya kita jalan pagi, sebelum jalan ramai yah menurut prediksi saya sebelum jam sembilan pagi kita pasti sudah sampai di te-ka-pe.

Dan semua berjalan sesuai rencana dadakan itu. Jumat sore kami pulang kantor ontime, packing, masih sempat leyeh-leyeh menunggu jemputan, jam sembilan malam lewat jemputan saya sudah datang, ada ichal, lisa, sule dan istri diatas mobil avanza. kami menuju antang, menjemput ama sekalian makan malam bersama di songkolo pannara, songkolo yang terkenal seantero jagat raya. enak, lezat dan insyaAllah bergizi tinggi.

Pukul setengah sebelas malam, kami berangkat. destinasi pertama, rumah keluarga saya. Saudara bapak. Kebenaran saya sudah rindu-serindu-rindunya dengan ponakan-ponakan kecil saya. Tapi, dasar saya.. haha.. aib ini! saya lupa rumah tante saya dimana.. gara-garanya memang saya selalu lemah dalam hal mengingat tempat ditambah lagi semua tanda-tanda jalan yang saya jadikan patokan itu tidak kelihatan karena suasananya gelap, setelah dua kali bolak balik meraba-raba jalan, akhirnya kami berinisiatif singgah di pom bensin dulu, buat tanya dimana tempat yang saya maksud, ternyata lewat 20 kilo.. kalo kata sule, ini bukan lewat namanya tapi ke-le-wa-tan! haha.. maaf.


Setengah satu malam, kami tiba di rumah tante saya. Musti ketok-ketok lama, karena orangnya sudah tidur semua. Tidak ada jawaban, sementara teman-teman saya terlihat mulai kecapean habis mutar-mutar ndak jelas. Pas saya lihat baik-baik, damn! pintunya tergembok dari luar. Mampus! Saya coba telpon Bapak tidak ada jawaban, telpon Mama lagi, masih ndak ada jawaban. Coba telpon Bapak lagi, akhirnya diangkat. Saya ceritakanlah semua kebingungan saya, yah buruk-buruknya nginap dimobil tapi kalau ada rumah lain yang bisa didadak kenapa tidak? kampung ini adalah kampung halaman bapak, tempat beliau lahir, tumbuh dan besar sebelum merantau ke Makassar. Bapak bilang, coba telepon lagi kalau buntu bilang. siap pak!

Saya coba telpon adik sepupu saya, tidak diangkat. Telepon kakak sepupu saya, walau lama Alhamdulillah diangkat juga. Tidak lama, istrinya datang dan menjelaskan kalau tante saya mendadak menjenguk ibunya yang sakit keras malam itu, lupa titip kunci rumah. Tapi rumahnya sukses dibuka dari belakang, dan kami akhirnya bongkar muatan dan pinjam dua kamar. Mungkin karena kecapean pulang kantor langsung ngabur keluar kota, anak-anak langsung tepar tak berdaya. tertidur pulas. sementara saya masih belum bisa tertidur, saya telpon Bapak hanya untuk bilang beres. hehe.. dari jauh pun, masih saja suka nyusahin. Maafkan pak, tidur lagi saja ;)

Jam dua, tante saya dan bungsunya datang. Saya terbangun dan sempat ngobrol-ngobrol sebentar, matanya masih bengkak kelihatan kalau habis nangis. Tapi bedanya orang kampung sama orang kota, disana tamu selalu istimewa makanya begitu tahu kalau saya dan teman-teman sudah ada dirumahnya dia tetap saja pulang dan mengurusi kami. Bongkar lemari, ambil sarung terus dikasih kesaya untuk teman-teman saya yang tertidur pulas hanya dengan baju dibadan. Nanti banyak nyamuk katanya. Saya bilang tidak usah repot.

Jam lima tiga puluh, saya terbangun. Tante saya sudah sibuk dengan acara masak nasi dan air panas. Saya ingatkan lagi, tidak usah repot. Tapi tetap saja dia tante saya, tidak ada kata "merepotkan" dihidupnya. Kemudian saya membangunkan anak-anak. Saat mereka menikmati hidangan teh panas, gogos dan pisang goreng yang masih hangat saya ijin jalan dulu kerumah sepupu-sepupu saya yang letaknya tidak seberapa jauh dari situ, mau nengok ponakan-ponakan. Setengah tujuh teng, rombongan kembali dalam perjalanan menuju pantai Bara.

You Might Also Like

0 Comment

Instagram