Menikmati Sarabba & gorengan di topi susan

Saya punya rekomendasi tempat nongkrong paling murah sedunia di Makassar, biasanya saya mengunjungi tempat itu bersama Arie dan Fuad dimalam minggu. Selain kami bertiga ada beberapa teman lainnya yang juga kami panggil, baru-baru ini kami mengajak Odhani dari Balikpapan untuk temu kangen disana.




Tempat nongkrong yang saya maksudkan disini adalah penjual gorengan dan sarabba disepanjang jalan Sungai cerekang, patokannya lorong pertama sebelah kanan setelah Smansa (SMA Neg 1) Makassar yang ada di jalan Gn. Bawakaraeng atau lorong pas depan RS Akademis di jalan Bulusaraung, tempat ini tak bernama, tidak juga menjadi incaran para traveller, tidak begitu terkenal sih, tapi tidak juga pernah sepi pengunjung. Kalau lagi ingin nongkrong disana saya paling kirim sms "topi susan deh!".

Asal mula nama topi susan itu muncul karena keisengan kami, jadi waktu itu kami memilih tempat yang ada didepan pos jaga, tempat tersebut punya pelayan pria, wajah datar, berambut gimbal panjang melewati pundak dan selalu saja menggunakan topi berwarna putih. Kami berandai-andai, jangan-jangan kalau topi itu diangkat ternyata rambut yang menempel dibalik topi itu juga ikut terangkat, haha.. ingat jaman masih SD dulu, saat Susan dan kak Ria enes lagi jaya-jayanya, ditoko-toko banyak dijual topi yang nyambung dengan rambut palsu panjang persis seperti rambutnya susan, ada yang modelnya lurus ada yang dikepang dua. Terilhami dari situ, makanya kami menyebutnya topi susan, hehe.. asli jahil. Tapi gara-gara topi susan itulah kami selalu datang lagi ketempat yang sama.

Menu yang disajikan ditopi susan tidak begitu beragam, hanya Sarabba dan gorengan. Apa itu sarabba? Sarabba adalah minuman khas kota Makassar, berbahan dasar jahe, gula aren dan santan. Disajikan dalam kondisi panas, Rasanya enak, manis dan menyegarkan tenggorokan. Satu gelas Sarabba' polos ukuran sedang dihargai Rp.5.000,- kalau pakai tambahan telur ayam kampung harganya Rp.10.000,-. Rasanya bolehlah, nendang, maknyussss, leher saya yang lumayan pilih-pilih berasa cocok-cocok saja, saya suka.. kalau gorengannya sendiri cuman menyajikan dua varian; ubi goreng dan pisang goreng dengan sambel. Rasanya biasa saja, tidak ada racikan khusus, orang pisang sama ubinya cuman dikupas, dipotong-potong dan digoreng seadanya. Harga persajiannya itu Rp.5.000,- untuk sepiring ubi goreng dan Rp.5.000,- untuk sepiring pisang goreng. Tidak dijual perbiji, sudah dipatok untuk dimakan massal. Haha..

Topi susan mulai buka jam 7 malam hingga menjelang dinihari. Daya tarik dari topi susan ini adalah suasana pinggir jalan dan harganya. Kalau di tempat-tempat nongkrong sekelas Starbucks (dll...) satu gelas minuman panas/dingin saja dihargai Rp.30.000,- keatas. Belum lagi suasananya yang terlalu dingin, yah cuman badan saja yang terlihat kumpul sama-sama tapi konsentrasi ada di gadget masing-masing. Sepenglihatan saya selalu saja begitu. Kalau ditopi susan suasananya lebih hangat, berbaur, bercerita, ketawa-ketawa, dan harganya dijamin murah, mungkin karena lokasinya juga yang dipinggir jalan jadi suasana malam itu benar-benar terasa, seumur-umur nongkrong disitu belum pernah saya keluarkan duit, alias gratisan.. hehe. Ada saja yang mau jadi bandar, yang terakhir nongkrong berempat bareng Odhani cuman menghabiskan Rp.35.000,-. Itupun kami masih berbagi sepiring ubi goreng ke pasangan suami-isteri usia menjelang kakek-nenek yang ikut duduk dimeja kami, katanya mereka singgah sebentar sepulang dari resepsi pernikahan.

Satu hal lagi, kemarin itu saya sempat melihat ada live music yang nampil disana, posisinya paling depan kalau dari jalan Gn. bawakaraeng, agak sedikit jauh dari topi susan yang terletak ditengah, kalau dilihat-lihat bisa jadi itu anak-anak smansa yang coba unjuk kebolehan tampil akustikan didepan para penikmat sarabba dan gorengan, modalnya cuman gitar, mic, speaker dan alat yang entah apa namanya tapi saya sebut "kucrekkucrek", hehe... maklum #awam (:p). Mereka bukan pengamen loh, apa disawer atau tidak, entahlah. Kapan-kapan saya akan coba nongkrong ditempat itu. Lumayan, nongkrong murah terus ada yang nyanyiin.. semoga gratis. Amin.

:)))

2 comments:

  1. selama ini baru tahu Sarraba ( namanya, belum nyobain rasanya ) dari iklan Nutrisari w'dank, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. rasanya mirip dengan wedang sih, hanya lebih gurih lagi karena ada santennya.. enak menggoda abi :)

      Delete

Powered by Blogger.