tua.

Saya pernah akrab dan mengamini satu kalimat bahwa tua itu pasti dewasa itu pilihan, tapi sekarang saya mengamini kalimat lain, bahwasanya tua dan dewasa itu pilihan. Memaknai tua tidak sebatas memudarnya pesona fisik seseorang tapi berkurangnya "kualitas" hidup seseorang. ini tentang mentalitas. mungkin saya bukan orang yang dewasa, tapi saya memilih untuk tidak jadi tua. 


IG @fitrop

Yah memang setiap orang punya pemaknaan masing-masing terhadap kata tua, bagaimanapun lambat laun seiring bertambahnya umur dunia diri kita pun akan menunjukkan aksi reaksinya, rambut yang berubah menjadi dua warna, garis keriput memenuhi wajah, postur yang tak lagi tegak, stamina yang kian menurun, mata dan ingatan yang mulai dikaburkan. Itu kodrati, Allah memberikan begitu banyak nikmat dan waktu untuk kita gunakan sebaik-baiknya, sampai tiba waktu dimana semua akan diambilnya kembali. fana.

Jadi, apa anda merasa tua? absolutely not! Tua itu hanya untuk orang yang sudah kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya hari esok, orang yang terlalu mengidam-idamkan keindahan masalalunya sehingga lupa harus berbuat apa hari ini. Kecewa, putus asa. Saya tahu jelas, walaupun berulang-ulang kali saya suggesti diri bahwa hidup ini simpel, tapi tetap saja hidup ini tidak sesimpel menulisakan atau menyebutkan kata simpel itu sendiri. Hidup ini keras. Tapi Allah maha baik, menitipkan kebahagian justeru pada hal-hal sederhana. Kita tinggal pilih, mau menertawakan hidup atau ditertawakan oleh hidup?

Akh, saya jadi ingat pemandangan *emosional* hari minggu kemarin di GOR andi matalatta. Hidup menunjukkan wajahnya yang begitu keras tatkala melihat bapak-bapak yang mulai masuk usia senja, berpakaian hitamputih, duduk menunduk dengan papan ujian ditangannya, (mungkin) ada doa anak dan isteri bersama mereka. Sementara disaat bersamaan hidup begitu menyenangkan tatkala melihat sekelompok muda-mudi, bercengkrama, dengan wajah yang begitu segar, menertawakan apa saja, pun dengan papan ujian ditangan mereka (mungkin) ada doa ayah dan ibu yang juga menyertai mereka. Duduk bersama, menerka rejeki. Milik siapa? semoga menjadi milik mereka yang lebih membutuhkannya dan mengusahakannya dengan jalan yang baik. Seperti halnya jodoh dan mati, rejeki pun tidak akan pernah bisa "diatur" manusia.

~sym

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

6 comments:

  1. Couldn't agree more soal maksudnya, mereka yg berhenti belajar mereka brhenti hidup ;D

    ReplyDelete
  2. sudah lama saya merindukan tulisan mbak syam yg seperti ini, simpel, santai, tapi penuh makna :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, terimakasih komentarnya selalu bikin saya sumringahan :))

      Delete
  3. menjadi tua belum pasti, karena ada batas usia yang kita ngga tau :D uda lama ngga bersua nih cam

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D,

      ahhh ucillll... lama gak muncul, balik2 dah punya babyyyyy *peyukpeyuk*

      Delete