Powered by Blogger.

Perihal rejeki

Beberapa minggu yang lalu ondespot transtujuh menayangkan video 7 tempat tinggal yang paling menyedihkan didunia. Ada yang tinggal di toilet umum, ada yang dalam lubang dijalanan, ada yang dikuburan dan sebagainya dan sebagainya, yang kelihatannya betul-betul sangat menyedihkan. Kalau diamati baik-baik, sebenarnya ada satu kesamaan dari ketujuh tempat tersebut, yaitu kesemuanya dihuni oleh orang-orang yang sudah lanjut usia.

Mungkin saya tidak akan begitu heran melihat hal tersebut. Toh setiap hari saya disuguhi pemandangan yang hampir sama. Ada seorang bapak tua yang tinggal dibelakang kantor saya, diarea parkiran motor, tepat pada satu sudut dimana dia membuat "rumah" mungilnya dari ikatan sarung lusuh. Hampir tiga tahun saya melihatnya terlantar seperti itu, saya tidak pernah melihatnya bicara, apalagi tertawa, dia hanya duduk dengan tatapan yang terlihat kosong. Sesekali menghisap batangan rokok. Dari informasi yang saya dapat, bapak itu dulunya adalah karyawan disalah satu anak perusahaan kantor saya. Entah kejadian apa yang membuat kesadarannya hilang, pun begitu dengan teman dan keluarganya. Dia hidup sendiri, sebatangkara.

Kalau melihat pemandangan yang begitu emosional seperti apa yang diperlihatkan dalam tayangan ondespot, kemudian bapak dibelakang kantor saya dan banyak pengemis tua yang memenuhi beberapa perempatan jalan, selalu saja muncul pertanyaan dalam benak saya: anaknya mana ya, kenapa begitu tega melihat orangtuanya terluntang lantung seperti itu, menyambung hidup dengan meminta belas kasihan orang lain?

Hingga pada satu kesempatan, saya pernah satu petepete/angkot dengan sepasang pengemis tua yang baru saja pulang "bekerja" dan saya pun menanyakannya langsung, anaknya mana bu? Jawabannya sederhana, anak-anak sudah menikah, sibapak/ibu ndak mau menyusahkan karena anaknya sudah punya kehidupan sendiri, toh mereka juga hidup tak kalah susah. Okay, ini mungkin kasus per kasus. Sayangnya yang kasusnya seperti ini BANYAK! hmm.. ini seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Kemiskinan dan polapikir yang turun temurun.

Pertanyaan besar selanjutnya untuk diri saya adalah: kira-kira masa muda mereka bagaimana ya?

Potret kehidupan yang seperti ini semestinya bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk terus berjuang memperoleh hidup yang lebih baik lagi, selagi masih muda dan produktif. Saya mengira-ngira (mungkin) saat muda dulu, mereka terlalu lunak pada hidup sehingga dihari tuanya mereka harus mengalami kekalahan yang tergores tegas dalam tatapan mata mereka yang begitu mengiba. Allahualam, saya masih percaya penuh bahwa manusia itu hanya perlu berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk membuka pintu-pintu rejekinya. Pengemis dan semua orang yang mengibakan hidupnya adalah ciri-ciri orang yang kalah pada hidup. Kecuali bagi mereka yang masih dibawah umur, mereka bukan kalah, tapi tidak diajarkan bagaimana itu berusaha dan berjuang, mencari nafkah dengan tetap menjaga kehormatan diri.

Saya kemudian teringat satu obrolan dengan seorang kawan pada satu waktu, ketika kami membahas perihal rejeki. Dia pernah mengeluarkan statement dengan sedikit bertanya: bagaimana jika seseorang yang sudah berusaha keras tapi memang porsi rejeki yang didapatnya ya sudah segitu (sedikit)? Atau kasus lain dimana seseorang yang tidak perlu bekerja begitu keras tapi justru mendapatkan aliran rejeki yang lebih luas (banyak)? Yah jujur saya sedikit bingung awalnya, tapi kembali lagi pada apa yang saya yakini bahwa manusia itu hanya perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tetap membuka pintu-pintu rejekinya. Persoalan banyak atau sedikitnya itu kembali lagi sama manusianya, bagaimana dia mensyukuri setiap apa yang dimilikinya. Bisa saja seseorang yang menurut mata dunia kita diberi rejeki berlimpah, tapi dia tetap saja merasa kurang sementara disisi lain mungkin ada orang yang menurut kita begitu terbatas hidupnya tapi bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Rejeki tidak bicara tentang kuantitas, tapi kualitas.

Allahualam..
Yang saya tahu dan saya yakini; Allah itu maha adil.

Well, belakangan ini dikantor, anak-anak cowok lagi hot-hotnya main taruhan bola online, kalau menang hasilnya bisa sampai puluhan juta, gilabok! Ada satu diantara mereka yang selalu saja menang setiap kali ada pertandingan. Prediksi tepat, dibilang beruntunglah, upa', lucky, jitu. Tapi bagi saya dia yang paling sial diantara yang lainnya, kenapa? Karena dengan menangnya dia, maka ketergantungannya pun cenderung akan lebih besar. Pasang lagi, menang lagi, makin besar, muaaaakin besar. Kasihan.

Hanya duduk menunggu hasil, menunggu nasib, peruntungan dan sebagainya, walaupun mungkin secara nyata memang "menghasilkan dan melipatgandakan", lantas bisakah itu juga dimasukkan dalam kategori berusaha/berjuang untuk hidup yang lebih baik?

Coba dipikir lagi, atau kalau tidak coba tanya iman.

3 comments

  1. mungkin dia hobi yudi.. belum kenal iman
    rejeki ngga ketuker, tapi klo usaha kaya gitu, awuuuhhhh, bahaya..

    ReplyDelete
  2. "...atau kalau tidak coba tanya iman"

    dalem mbak :)

    ReplyDelete