Powered by Blogger.

Qs.Yasin: 38

Semalam saya tertidur sebelum mengakhiri dua percakapan via dua instan mesengger berwarna hijau bersama dua sahabat saya. Bukan tidak menarik, tapi memang kami terlibat pembicaraan yang entah bagaimana untuk bisa sampai pada endingnya, dan saya, selalu saja tidak pernah bisa mengakhiri pembicaraan yang saya anggap serius dan menyenangkan.

Pada satu pembahasan, saya dan sahabat saya membicarakan perihal ajakan liburan ke Dieng pada bulan Januari 2014. Tanggal dan itinerary sudah jelas, jika saya ikut, saya akan ada bersama orang-orang baru lagi yang kesemuanya berasal dari Jakarta, yey, sounds nice! tapi saya berfikir keras, saya sudah meniatkan dalam hati tentang satu perjalanan besar untuk tahun depan, ke Pulau sabang atau Pulau Phi-phi. Akh! kalau banyak uang mah ndak masalah, cuti bisa diatur.. status saya masih bimbang, tapi kalau ada tiket gratis, yah mungkin akan lain cerita. Haha. #superkode

Pada pembahasan lainnya, saya dan sahabat saya membicarakan perihal perasaan. Dia belum pulih dari patah hati keras. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian, berusaha merasakan apa yang dirasakannya. Patah hati adalah hal paling klasik didunia, semua orang pernah merasakannya. Termasuk saya. Lepaskan saja, semua orang berhak mencari yang terbaik. Saya tidak akan membicarakan bagaimana jodoh itu bekerja, cukup buat diri kita masing-masing belajar. Percaya saja, jika kita benar-benar tulus mencintai, patah hati justru bisa membuat kita bijaksana. Tapi dia terlalu keras kepala, dia tidak berhenti menyalahkan diri sendiri, menangisi sepanjang waktu. Yasudah, saya bisa apa? Saya kemudian memberikan dia satu judul lagu, yang ternyata cukup membuatnya merasakan nyaman. Lagu yang juga selalu menyamankan hati saya.

Saya lupa, pukul berapa saya tertidur.

Pagi-pagi saya bangun, saya ingat dengan jelas, semalam saya melihat sahabat saya yang lainnya menuliskan judul: Qs.Yasin: 38 dihalaman pribadinya, saya belum sempat membuka penjelasan dibalik judul, setelah saya periksa dalam keadaan benar-benar sadar, hmm.. ternyata hanya mimpi. Dengan rasa penasaran, kemudian saya membuka terjemahan ayat tersebut: Matahari, oh, saya tersenyum, what a dream! Saya kembali mengingat, sahabat saya ini pernah bilang, mimpi itu terkadang cuman permainan fikiran kita sendiri, ya, bisa jadi. Tapi saya selalu percaya, walau berjarak, dia selalu mendoakan yang terbaik untuk saya. Begitupun sebaliknya, tanpa perlu pembuktian untuk saling meyakinkan satu samalain.
Dan matahari berjalan ditempat peredarannya, demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Qs.Yasin: 38. 
Semoga Allah selalu membuka mata dan persaan kita semua, betapa nikmat itu ada disekeliling kita, kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari-cari, bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain jika diri sendiri susah untuk kita bahagiakan? mungkin memang benar, jika hidup itu tak ubahnya rentetan proses saling membahagiakan. Seperti matahari yang selalu ada dilintasan peredarannya, begitupun saya (berjanji) untuk selalu ada kapanpun kalian membutuhkan. Datang saja, untuk membagi suka atau pun duka.

Kepada sahabat-sahabat saya, saya mencintai kalian, dengan cara saya.

:))

4 comments

  1. "saya mencintai kalian, dengan cara saya" suka kata-katanya ka....

    ReplyDelete
  2. Sepakat ^^ kebahagiaan itu diciptakan bukan dicari :)

    ReplyDelete
  3. mari menjadi pembawa kebahagian buat orang di sekeliling...

    ReplyDelete