RIP tante eta

Kemarin malam, perasaan saya sedikit gamang. Sebenarnya sudah hampir dua minggu saya dalam kondisi hati yang begitu rumit, mungkin saya sudah terlalu lama sok berdiri kuat dan tegar, atau mungkin saya memang kuat hanya saja saya merindukan sisi melankolis dari diri saya. Hanya sedang ingin bermanja-manja dengan perasaan.

Sampai akhirnya mama saya pulang terburu-buru dari tempat pengajiannya, membawa kabar duka. Tante eta meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji'un..

Saya pernah satu kali menulis tentang tante eta diblog ini, dia tetangga saya, seorang perempuan tangguh yang hidup hanya berdua dengan cucunya. Janda cerai, anaknya banyak, tapi tak satupun yang tinggal bersamanya. Setiap harinya tante eta menghidupi dirinya dan cucunya itu dengan mengumpulkan apa saja dari tempat sampah yang bisa dijualnya kembali. Hidup itu keras. Setiap hari tante eta ini selalu terdengar mengomel kemudian adu mulut dengan anak-anak kecil gara-gara cucunya diganggu dan dihina, atau sesekali terdengar tante eta ribut-ribut dengan tetangganya. Tidak jarang dia dikatai orang gila, pedih rasanya melihat yang seperti itu. Dipandang remeh, tidak berharga.

Perasaan yang sudah gamang, ditambah berita duka yang tak terduga itu membuat saya menangis. Saya sedih. Hffttt.. saya kemudian mengingat-ingat, setiap hari, setiap pagi saat saya keluar rumah menuju kantor, kami berpapasan dan dia selalu mengucapkan "selamat pagi nak" dengan senyumannya yang khas, kemudian memuji saya "cantiknya" atau sekedar menanyakan "tidak diantar?" kalau melihat saya berjalan kaki. Dan setiap sore, saat saya pulang tepat pukul lima dari kantor, didepan lorong dimana dia selalu duduk menikmati sore menemani cucunya main, dia akan menyambut saya dengan ucapan "pulang cepat nak?"

Tidak terlihat banyak duka yang mengantarkan kepergian tante eta. Kebanyakan hanya terlihat kaget, karena sampai satu hari sebelumnya tante eta bahkan masih terlihat mondar-mandir, rambutnya habis disemir hitam. Hanya tiba-tiba pencernaannya terganggu kemudian masuk rumah sakit dan malamnya selepas magrib dia sudah meninggal dunia. Adik saya bertanya "adaji yang menangis kodong?", ada.. saya! Hubungan kami memang tidak istimewa, tapi tante eta baik sama saya. Lewat senyuman dan sapaannya setiap hari itu lebih dari cukup untuk membuat saya merasa kehilangan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dimasalalu bu eta ini, sehingga dia menghabiskan masa tuanya dalam sepi dan hinaan orang. Tapi dia kuat. Ibu eta memberikan saya banyak pelajaran berharga, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap kepada sesama manusia. Khususnya pada orang tua yang justru lebih membutuhkan banyak perhatian dan pengertian dimasa tuanya, dimana "jaman" bergerak jauh lebih cepat dari polapikir mereka.

Selamat jalan tante eta. Semoga Allah memberikan tempat terbaik menurut-Nya, Dia maha adil. Hanya saja ajal lebih dulu sampai dari hidayah sehingga tante tidak sempat mengenal-Nya dengan benar.

posted from Bloggeroid

4 comments:

  1. aamiin ya Rabb.. semoga Allah memberikan tempat yang paling baik

    ReplyDelete
  2. turut berduka cita. semoga yang ditinggal diberi ketabahan ya...

    ReplyDelete

Powered by Blogger.