Powered by Blogger.

Tentang teman lama yang jago "gitaran"

Kita teman lama. Teman sma. Semenjak perpisahan sekolah di enrekang tahun 2004 lalu, kita sudah tidak pernah ketemu lagi. Memang tidak akrab sih. No contact. Ya, loose contact.

Tahun 2008, jamannya facebook jadi primadona menggantikan posisi friendster, kita temenanlah di fb. Tidak ada wall-wallan, chat-chatan, komen status apalagi. Hubungan kami polos.

Yang saya ingat dia keras kepala. Gengsian. Disaat hampir semua teman-teman kelas yang terlalu malas mengerjakan pr/tugas berkerumun dimeja saya untuk meminta contekan, dia tetap ditempatnya. Menyelesaikannya sendiri. Oke, dia cukup cerdas, pintar dan tipikal orang yang bisa berdiri sendiri. Kita sama-sama dingin, seperti orang yang punya dendam satu sama lain. Tapi, sumpah demi apapun kita tidak pernah ada dalam masalah apa-apa. Kecuali, waktu itu, didepan mata saya dia menghasut seorang pria pengecut, untuk berfikir kembali tentang perasaannya yang tak pernah sukses disampaikannya. Kepada saya. Tapi saya terimakasih, setidaknya saya dijauhkan dari pria yang bahkan butuh orang lain untuk meyakinkan dirinya. Iya. Atau, tidak. Saya sama sekali tak menyimpan dendam karena itu. Dan karena itu pula, walau hubungan kami polos saya tetap bisa mengingat dia dan wataknya dengan baik.

Dan saya menemukannya ditempat sepi. Tempat dia menimbun harta karunnya, musik instrument. Ofcourse, he's a basis! Walau tidak populer, setidaknya kemampuannya itu membuat dia menonjol dimata saya. Dulu, beberapa kali saya pernah mendengar dan melihat dia bermain dipensi sekolah. Badan kecil, kurus kering, menggendong benda bertekstur panjang yang dimainkannya dengan apik dengan air muka yang dingin. Saya kira, kemampuannya semakin lama semakin biasa seperti beberapa teman yang akhirnya hanya menjadi sekedar bisa main, tapi ternyata tidak. Sekarang permainannya jauh lebih matang. Yang baru sekali dengar saya langsung dibuat me-le-leh. Keren. Enak. Awesome. Favorit saya, amazing grace. Ciamik lahhhh!!! Yang gini-ini-nih yang kadang bikin saya nyesel, dulu kenapaaa saya ndak benar-benar serius belajar gitaran. Huh!

Saya kemudian berfikir, satu hari nanti yang entah kapan, saya mau coba untuk meminta dia meng-cover-kan satu lagu untuk saya. Tapi saya keburu sadar, boro-boro meminta, membayangkan bagaimana memulai percakapan awal saja suram. Hitam. Kelam. Oke, lupakan.

Ps. Sebenarnya kalau untuk saya, permainan ardosebastian lebih oke, apalagi suaranya, beda telak. Tapi ada kenangan, yang membuat posisi teman saya ini lebih istimewa, sampai bisa dijadikan cerita. Walau cuman kenangan polos. Haha.

posted from Bloggeroid

2 comments