Hello again, Jekardahh!


Entahlah. Saya yang dilahirkan untuk menyusahkan hidup banyak orang, atau banyak orang yang dilahirkan untuk memudahkan hidup saya, Hamdalah..

***

Well, awal januari 2014 ini saya mengambil cuti tahunan cuman dua hari sih tapi lumayan untuk "refreshing" sejenak melupakan tetekbengek dunia perkantoran yang rentan komplain ini, haha.. Cuti kali ini saya pakai buat jalan ke Jakarta yah sekalian ada urusan penting juga disana. Ini persis seperti peribahasa sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui.

Karena perjalanan kali ini tanpa sponsor alias biaya sendiri, saya kemudian merencanakan untuk cari tumpangan. Oke, di Jakarta saya punya banyak kenalan dan teman yang mungkin bisa disusahi sedikit, tapi saya berasa kurang srek juga pada akhirnya, harus mandiri syam (saya membatin), yasudah saya cari hotel murah saja disekitaran tempat saya akan banyak menghabiskan waktu.

Tapi namanya rejeki yah, saya yang waktu itu curhat sama Odhani akhirnya dikenalkan dengan sahabat dia waktu masih kerja di Jakarta dulu, namanya Erna. Saya, Erna dan Odhan terlibat dalam grup yang dibentuk dadakan di whatsapp, kita ngobrol-ngobrollah disana, anaknya asyik, dan rencananya selama di jakarta nanti dia yang akan memberi saya tumpangan dan menemani saya kemanapun saya ingin. Asoy gak tuh, haha..

Sehari sebelum saya cuti, boss saya memanggil untuk bicara serius, dia menanyakan secara detail agenda saya selama saya berada di Jakarta nanti. Oke, saya jelaskanlah dengan sek-sa-ma. Jadi, ceritanya setelah urusan saya selesai di Jakarta sana, bapakboss akan menyusul dan besoknya setelah cuti saya berakhir kita akan ada dalam perjalanan dinas di Jakarta, jadi saya diminta jangan pulang dulu dan membawa serta smua berkas-berkas yang diperlukan nanti. Setibanya di Jakarta saya disuruh nginap di salah satu hotel yang namanya terdengar aneh, saya juga disuruh merental mobil selama di Jakarta, dan aksi paling ekstrim dia kemudian menelpon seseorang di Jakarta sana untuk memastikan saya tidak kerepotan sendiri. Saya tersenyum, ah sibapak ini selalu saja bisa bikin saya terharu biru.. bukan karena fasilitas yang dia kasih, tapi lebih ke perhatian dan pengertiannya, saya memang tidak menolaknya secara langsung, tapi saya tidak akan memanfaatkannya juga. Lagipula saya kan cuti, jadi saya tidak mau berurusan dengan semua hal tentang kantor, apapun itu.


Cuti hari pertama

Bangun sedikit siang dihari kerja ternyata enaknya luar biasa yah, haha.. flight saya sekitar jam sebelas jadi masih bisa leyeh-leyeh dulu. Jam sembilan meluncurlah saya kebandara, langit mendung, jalanan cukup lowong jadi bisa menikmati me time dalam perjalanan. Jam dua belas kurang waktu jakarta, pesawat saya parkir, zuhur dulu di bandara sebelum jalan. Tujuan pertama diseputaran jalan Sisingamangaraja, dari hasil tanya-tanya dan baca-baca, untuk menuju kelokasi tersebut saya musti naik damri dulu tujuan Blok M, biaya tiketnya 30.000IDR, turun di terminal Blok M. Sampai di Blok M, saya harus berjalan sekitar 500M untuk sampai lokasi tujuan. Sebenarnya bisa naik Kopaja tapi musti nyeberang jalan lebar bolak-balik dengan tingkat kemacetan yang bikin mumet, atau naik Ojek tapi musti lewat jalan mutar dulu barulah bisa sampai dilokasi. Saya mending jalan kaki lurus-lurus hanya sekali nyeberang perempatan, lumayan siang-siang, plus asap knalpot hitam kelam dan kendaraan yang serba berisik menemani saya menyusuri jalan Sisingamangaraja.

Urusan selesai. Sore ini Erna akan menjemput saya sepulang kantor. Saya menunggu di mushollah sembari Ashar, dan saya ketemu seseorang yang nampak kebingungan. Saya tanyalah dengan sek-sa-ma, dia menjawab dengan logat yang tidak asing ditelinga saya, anak Makassar yah? dia jawab: bukan, saya dari Bone. Senyum saya mengembang, ah Allah.. You're my best. Saya kemudian tanya-tanya tentang dirinya, dan ternyata dia di Jakarta ini sendirian, bingung mau kemana, mungkin akan menetap di Mushollah itu saja sampai besok katanya, belum lagi dia orang yang gampang panik, kumplit sudah. Saya merasa dia orang baik, polos tak bermotif. Saya mengajak dia ikut sama saya saja, dan dia mau-mau saja. Sama-sama anak hilang, haha.. tapi saya ada Erna yang sedari bandara tak henti-hentinya nge-sms untuk memastikan saya baik-baik saja.

Jam enam Erna akhirnya muncul juga, pertemuan pertama kami setelah hampir seminggu berkenalan dan ngobrol via whatsapp, cantik; smart; cerewet; masih muda dan jomblo, eh, single maksud saya, haha.. ndak ada cerita kikuk-kikukan, udah ngeblend saja suasana dan obrolannya. Tentang Nur, saya menceritakannya ke Erna. Sekedar meminta saran, saya otomatis akan membawa dia kemanapun saya pergi selama di Jakarta ini, saya batal menginap ditempat Erna karena saya bawa orang, ndak enak kan, sudah numpang bawa tumpangan juga. Terserah, kata Erna, kostan dia juga tak cukup besar untuk menampung kami bertiga. Selepas makan siang yang kesorean, plus Magrib-an, kami diantar buat cari hotel.

Perjuangan cari hotel pun tak kalah kocaknya, jadi kami bertiga memilih untuk jalan kaki mencari penginapan seputaran Blok M. Dua kali mondar-mandir dari terminal Blok M sampai perempatan jalan Sisingamangaraja, total kita ada jalan 1KM untuk sampai di hotel yang kita cari padahal tempatnya ada diseberang jalan tempat kami makan tadi. Haha, blunderrr.. capek sih, ngos-ngosan, tapi menertawakan kejadian ini bersama orang-orang yang baru saya kenal menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan.

Tiba di hotel, dan setelah mengurusi soalan administrasi kami istirahat dulu di kamar sekalian bersih-bersih badan. Erna tanya, mau kemana lagi? saya yang sudah amat sangat lelah minta untuk malam ini istirahat saja dulu biar besok urusan saya bisa maksimal, kita janjian besok malam setelah pulang kantor dia akan menjemput saya lagi dihotel untuk dibawa menikmati malam di kota Jakarta. ce-i-leh bahasanya, padahal kita janjian cuman mau nongkrong di daerah Tebet plus nonton di Blitz.. haha.

***

Cuti hari kedua

Selamat pagi Jakarta. Kota sumpek yang begitu dicintai oleh banyak orang, buktinya penduduknya melimpah ruah. Hehe.. asumsi asal. Pagi ini saya kembali dalam urusan mahapenting, bersama teman baru saya tentunya, Nur. Kalau kemarin cuaca Jakarta begitu terik, hari ini sedikit kalem, hujan diluar tapi masih titik-titik sih jadi kami tetap memutuskan untuk tetap berjalan kaki menuju lokasi kemarin. Disana rameeee, nantilah saya akan ceritakan lebih detail lagi tentang ini. Dari jam delapan, urusan kami selesai sekitar pukul sebelas siang. Hujan makin gede jadinya saya dan Nur yang berencana jalan-jalan ke kota Tua untuk menghabiskan waktu menunggu Erna batal. Kita pulang ke hotel saja dulu menaruh barang-barang. Abis itu kita nyeberang muter-muter Plaza Blok M trus ke Blok M Square buat cari makan siang. Mall, dimanapun kota/negaranya pemandangannya yah tetap sama, e-ta-la-se, kemewahan!

Kembali ke-hotel, menunggu Erna yang tak lama lagi akan datang katanya. Saya tanya Nur, dia pulangnya kapan? Besok, dan belum ada tiket jawabnya. Sambil tidur-tiduran, saya teleponlah travel kantor dan memesan satu tiket pulang untuk Nur, nanti dia bayarnya lewat saya. Setelah urusan Nur beres, orang travel tanya lagi besok saya mau pulang jam berapa? lah? saya kan pulang lusa subuh bareng Bapakboss, sudah ada kode bookingnya juga. Ternyata, sebelum saya telepon boss saya sudah lebih dulu konfirmasi ketravel kalau pulangnya dipercepat entah karena apa dan jam berapa, ditelepon balik juga susah terhubung.

Tak lama Bapakboss telepon, katanya setibanya di Bandara Soetta ada customer yang telepon dan mendadak harus meeting besok siang. Level pentinya lebih pentinglah dari urusan yang di Jakarta. Buset. Jadinya saya pun ikut pulang, kita beda penerbangan, karena ini dadakan Bapakboss dapat tiket untuk fligth jam sembilan pagi sementara saya harus bangun dini hari untuk mengejar flight jam lima subuh, dari Jakarta langsung ke kantor. Cuti habis dengan tragis. Hahaha.. amazing emang hidup guweeeh!!!

Setelah urusan tiket-me-niket ini beress, sebelum Erna sampai dihotel pun boss saya kembali menelepon untuk memastikan saya dapat tiket pulang besok pagi, tiket yang sebelumnya otomatis cancel dan hanya dapat pembebanan 50% dari harga. Lumanyun abisss. Setelah itu saya diminta untuk datang ke mall central park, makan malam, siyapppp Bapakbosss, saya pun menceritakan kalau saya tidak sendirian ada dua orang teman yang harus saya bawa serta.

Sebenarnya malam ini saya akan ada nongki-nongki di daerah tebet, lalu lanjut nonton di Blitz sebelum akhirnya pulang kampung! Tapi acara gagal sempurna, kita akhirnya makan malam sambil ngobrol-ngobrol dulu di CP bareng Bapakboss dan ketiga anaknya yang memang sudah lama tinggal dan menetap di Jakarta-Bandung. Umur kami tidak jauh beda, dan anak-anaknya mewarisi sifat humble Bapaknya, sudah sering ketemu juga jadi kami sudah lumayan akrab.

Setelah acara makan malam, kami bertiga misah dari rombongan. Jadi nontonkah? hmm.. waktu sudah tidak memungkinkan, besok subuh-subuh sudah musti ke Bandara, dan cita-cita saya nonton di Blitz pun sirna sudah. Haha, entah apa bedanya, padahal di Makassar pun bisa nonton kan yah? Jadinya kami cuman duduk cantik dipelataran CP, melihat atraksi air mancur yang timbul tenggelam mengikuti suara musik. Obrolan lebih didominasi oleh saya dan Erna, dan seperti biasa, Nur lebih banyak diam. Pukul sepuluh malam, Erna mengantarkan kami kembali ke hotel dengan taksi yang supirnya tak kalah amazing, saya menyebutnya dengan nama pak Tarno, bukan nama aseli hanya saja logatnya perciss dengan pak Tarno sang pesulap itu.

Entah, Erna ini didatangkan Allah untuk membalas kebaikan saya yang mana. Saya bahkan terlalu buruk dalam hal memberikan perhatian ke orang-orang. Saya heran saja, dari kemarin dia melayani saya seperti tuan puteri. Apa-apa dia, apa-apa dia. Paling menyebalkan adalah, kita selalu ngotot-ngototan kalau sudah urusan bayar-bayar, entah itu saat makan atau naik taksi. Dan seperti biasa, saya tidak pernah pandai untuk lebih ngotot, cukup dua kali dan jika dia tetap berkeras, maka pada desakan ketiga saya otomatis mundur dan membiarkan dia membereskan semuanya.

Singkat tapi bermakna, suatu hari nanti, entah sengaja atau tidak kita akan bertemu untuk saling memberi kebaikan. Terimakasih nengnayyyy, barakallah.

***

Dan akhirnya pulang

Jam tiga subuh, saya dan Nur terbangun tanpa musti dibangunkan oleh alarm yang kami set dihandphone masing-masing. Langsung mandi, dandan dan checkout. Taksi semalam sudah ada standby depan hotel, dari jam tiga sebenarnya dia sudah sms, katanya sudah ada dibawah dan siap mengantar kami ke bandara. Ciyee, pak tarno... sebenarnya semalam sewaktu dalam perjalanan pulang dia nguping pembicaraan kami, pas tau kalau subuh-subuh kami mau kebandara, dengan logat khas tegalnya dia main nyambung saja: besokk tak anterin ya mbak kebandaranya? ya kalau mau sih, tapi kalau cuman mau naik blue bird juga ndak apa, saya tak menolak atau mengiyakan, cuman bilang: titip nomer saja pak nanti kita hubungi lagi. Eh malah dianya yang minta nomer, yasudah, tukaran nomerlah dia sama si Nur. Ciyeee miskol-miskolan.. haha.

Feeling saya sama pak tarno ini baik-baik saja, waktu Nur tanya kita tetap naik taksinya? Iya sajalah! Dalam perjalanan menuju bandara, suasana hening. Tidak ada percakapan apa-apa, masih ngantuk sih. Barulah saat masuk gerbang Soetta, pak Tarno buat ulah lagi. haha, sopir kocak.
Tarno: mau kemana mbaknya?
Saya: Makassar ya pak, tau ndak terminal berapa?
Tarno: Makassar itu di Kalimantan kan mbak?
Saya: bukan, sulawesi pak..
Tarno: iya, sulawesi di Kalimantan kan ya?
Saya: enggak pak, Kalimantan itu beda sama Sulawesi..
Tarno: oh, kalo gitu Sumatera bukan yak?
Saya: bukan pak, bedaaa... *mulai sebelll
Masuk keterminal 1A, saya dan Nur bablas tidak sempat liat papan informasi
Tarno: kalo gitu saya tanyain dulu ya mbak..
Saya: oke.. *tetep duduk manis dimobil*
Tarno: oh, katanya diterminal 1B
masuk keterminal 1B, saya perhatikan papan informasi dengan seksama, sial! pak tarno berulah
Tarno: tak tanya lagi dulu ya mbak..
Saya: terminal untuk pemberangkatan ke sulawesi dimana ya pak? *kali ini saya ikutan turun, saya yang nanya*
Petugas: oh, di 1A buk.. 

Saat lihat jadwal penerbangan yang ada di terminal 1B, saya kemudian lemes sendiri, pak tarnooooooo... saya kan sudah bilang Makassar itu di Sulawesi, ini kenapa saya tetap dibawah ke terminal penerbangan ke Kalimantan sikkk??? saya curiganya, waktu tadi pak Tarno bertanya di terminal 1A, dia nanya dimana terminal keberangkatan ke Kalimantan makanya dioper ke terminal 1B. Huh! tapi kalau lihat mukanya yang masih sangat muda, polos dan benar-benar tanpa dosa, plus saya yang sudah mepet waktu, saya tidak memperpanjang soalan. Ya sudah, dia hanya minta maaf, saya bayar, dan angkut barang-barang dengan terburu-buru menuju terminal 1A. Lumayan bok, olahraga otot dan jantung pagi-pagi buta.

Ini adalah pengalaman pertama saya lari-larian dibandara, flight jam 5, dan saya check-in sepuluh menit sebelumnya. Saat tiba dibadan pesawat pun semua orang sudah duduk cantik, banyak mata memandang saya yang muncul dengan napas ngos-ngosan, bener-benerrrr ya.. tapi ndak apalah, sudah dipesawat juga. Waktunya istirahat, karena setiba di Makassar saya akan kembali pada kehidupan normal. Kembali pada rutinitas.

Haha, tadi acara pisah-pisahan sama Nur tidak lagi menjadi dramatis. Turun dari taksi saya langsung salaman, cipika-cipiki, and say see you later.. padahal kita menuju terminal yang sama, hanya saja penerbangan dia masih satu jam lagi. Dia masih bisa jalan dengan anggun dan duduk cantik di gate sambil menunggu terbang. Perjalanan kali ini, saya beruntung ketemu Nur, bisa ada temannya kesana kemari, walau lebih pasif lama-lama dia juga terbiasa dan bisalah diajak gila-gilaan. Haha, rusakin anak orang ini ceritanya. Thankyou.. thankyou..

Tiga hari yang luar biasa. Semakin membuat saya yakin, kalau tidak pernah ada hari yang selalu berjalan sama disetiap harinya. Hidup itu dinamis, bergerak, jika kita mau ikut bergerak.

Cheeeeeerss!

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

1 comment:

  1. Iwaaaww... Te o pe be ge te dah👍😁

    ReplyDelete