Powered by Blogger.

Lagi, Ke Parepare



Jangan pernah remehkan setiap apa yang pernah kamu ucapkan dalam hatimu, bahkan ketika kamu menyebutnya hanya sekali dan setelah itu terlupakan..

Saya masih ingat jelas, setahun yang lalu, pada bulan yang sama: Januari 2013, saya dan rombongan kantor ada dalam perjalanan menuju Parepare dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan kawan terbaik saya dikantor, Sule dan Iyha. Pada kesempatan itu, setelah menghadiri pesta pernikahan Sule, saya dan teman-teman jalan ke pasar Senggol yang terkenal dengan pusat penjualan aneka barang bekas, barang-barangnya cantik hanya saja harganya sedikit mahal. Bagi saya menikmati malam di kota Pare cukup menyenangkan, dan sempat terbersit keinginan akan mengunjungi Pare kapan waktu bersama keluarga.

Kali kedua saya ke Parepare pada bulan Juni 2013 bersama Sule dan istrinya, Iyha. Waktu itu hati saya sedang amatsangat tidak stabil, entahlah, saya benar-benar butuh lari dari rutinitas kantor dan beberapa sudut dalam rumah sendiri. Saya diajak musda untuk berkeliling kota Pare, berdua. Dikenalkan dengan kak Jun. Jadinya saya di drop oleh Sule di kosan Musda, kemudian dia dan istrinya melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuanya. Besoknya saya dijemput ditempat yang sama untuk kembali ke Makassar. Dalam perjalanan menuju Makassar itulah saya bertanya banyak ke Sule, tentang Pare, kecenderungan "konsumsi" penduduknya dan potensi-potensi besar yang bisa diciptakan dikota kecil yang mulai berkembang pesat tersebut. Saya jatuh hati dengan keteraturan dikota ini, dan dalam hati berbisik mungkin menyenangkan kalau bisa tinggal dan bikin usaha di Pare.

Mungkin, bisikan hati kecil didengar seumpama doa paling tulus oleh sang penghimpun dan pengabul doa. Tak lama lagi, saya akan dibawa keluarga saya ke Pare dan bersamaan dengan itu pun saya akan menetap untuk beberapa saat dikota Pare. Sendiri. Menjadi anak rantau. Ya, anak rantau yang amat sangat manja mungkin.

Me, Sule, Uceng and Iyha. Foto pake TONGSIS! barunya Iyha. Haha.. gila yak kita :p

Dan kemarin saya kembali ada dalam perjalanan dari Makassar menuju Pare dan kembali ke Makassar dihari yang sama, ditemani oleh Sule dan istri; Iyha. Kali ini ada Uceng yang juga ikut serta, dia masih di Makassar sampai liburnya berakhir bulan Februari nanti. Beberapa waktu yang lalu dia pernah menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke Pare, waktu itu saya belum ada rencana kesana, dan sekalinya saya punya waktu luang dan Sule pun bisa mengantarkan saya ke kampung halamannya sayapun mengajak Uceng, dan ternyata dia bisa. Jadinya kami berangkat cuman berempat, minus Musda yang ada acara arisan keluarga dan Fuad yang benar-benar hanya butuh tidur hari ini.

Jarak tempuh Makassar-Pare, tak kurang dari tiga jam. Entah berapa kilo jauhnya. Kami berangkat sekitar pukul tujuh pagi, setibanya di Pare kami langsung berkeliling didaerah Sudirman mencari rumah tinggal untuk saya nanti. Usaha yang lumayan sulit, karena kami memang kurang paham tanda-tanda rumah yang menyewakan kamar. Haha. Beberapa rumah yang disinggahi rata-rata full. Aih. Tapi salutlah buat Ucengmaruceng, yang paling agresif naik-turun-naik mobil plus nanya-nanya ke ibu-bapak. Inisiatip elap-elap kaca mobil juga, karena kaca belakang mobil Sule ndak ada wipernya, haha, Jemfoll!


Hampir duajam kami berkeliling dan hasilnya nihil. Tapi saya masih punya persediaan peluru: Kak Jun, teman baik Sahabat saya Musda yang dikenalkannya kepada saya. Kak Jun sudah dua tahun merantau di Pare, bekerja untuk menyambung hidup #halah. Dari informasi kak Jun sebenarnya banyak kamar sewa didaerah Sudirman sana, yah kita mana taulah bang, situ jagonya. Yasudah, kita diminta pulang saja nanti urusan kamar diurus sama dia, tuntas, saya tinggal tunggu ditelepon sama dia. Kerenlah abang ini :p

Sudah jam satu lebih, gara-gara keliling-keliling dan cuaca mendung kita jadi bablas dan makan terlambat. Yang penting urusan saya beres sementara, acara selanjutnya ya kulineran: Palekko di Pinrang. Menuju pinrang tak kurang dari 20menit, sampainya disana kami tak menunggu lama dan makanan khas daerah Pinrang pun tersaji dengan begitu membangkitkan selera orang-orang yang kelaparan. Dan dua porsi itik, habis sempurna. Wow, haha..


Dari Pinrang kami singgah sebentar ke rumah Sule di Pare, ketemu dan salim-saliman sama Ibu dan Bapaknya plus tante-tantenya. Ya, setidaknya saat merantau nanti saya tidak akan benar-benar sendiri, ada orang tua sule dan beberapa kenalan, bagi saya, mereka adalah keluarga saya. Orang-orang yang begitu perduli. Terimakasih dengan amat sangat.

Pukul setengah empat kami kembali menuju Makassar, pulang. Walau sebenarnya tidak buru-buru tapi Sule menyetir mobil dikecepatan 80-100km/jam. Buset. Sabar bangbrooohh.. Sampai di Makassar kami terlebih dahulu ngedrop uceng di Terminal Lita, berharap dia masih sempat ketemu Bapaknya sebelum bus yang membawa beliau menuju Mamuju berangkat. Alhamdulillah anak-bapak masih sempat ketemu.

Walau seharian hujan turun, banjir dan becek sana sini, perjalanan kali ini tetap Rock! Terimakasih, terimakasih dan terimakasih. Untuk teman-teman seperjalanan: Sule, Iyha dan Uceng, teramat sangat.

:))

1 comment

  1. Kunjungan siang. Hiheiheihei
    Huaaaaaaaaaaaa siang siang gini liat masakan
    Serrr Mendadak Laper

    ReplyDelete