Powered by Blogger.

Sang Alkemis, halaman tigapuluh.


Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda tahu takdir mereka.
Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu ada daya misteri yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu. 
(paragraf 2-3)

Saya pribadi percaya, selalu ada jiwa anak-anak dalam diri setiap manusia. Maka dari itu, jangan matikan bocah ingusan Itu, karena itu adalah harta karun terbesar manusia yang selalu bisa memberikan energinya untuk terus berdiri pada banyak kekalahan, menganggap hidup tak ubahnya seperti bermain, tidak usah terlalu diambil pusing. Betapa menakutkannya menjadi tua, betapa membosankannya jika melulu menjadi dewasa. 

Tapi daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini: siapapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kalau kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini.
(paragraf 5)

Mungkin benar, tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar buruk didunia ini. Entahlah. Segala sesuatu memang harus sesuai dengan porsi dan takarannya. Bagaimanapun, bocah ingusan itu tak akan pernah bisa menangkap pelajaran-pelajaran yang ditebar oleh semesta melalui banyak kejadian-kejadian keras dalam hidup ini. Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan menangis dan merengek, apalagi hanya dengan menganggap semuanya baik-baik saja. Ya, segala sesuatu akan baik-baik saja, jika kita membuatnya baik.

Intinya buku ini keren. Mungkin amat sangat terlambat untuk bilang bahwa saya tertarik pada setiap kata yang ada dalam buku ini, mengingat banyak teman-teman saya sudah membaca dan mengatakan buku ini keren sejak jaman kuliah dulu. Hehe.. ya, bagi saya tidak ada yang namanya cepat atau lambat, yah semua hal, apapun itu akan datang pada waktu-waktunya sendiri, dimana dia akan menjadi jauh lebih baik karena memang baik, bukan karena euphoria/hasrat semata.

Well, hujan tak lagi turun diluar sana. Tapi cuaca dingin membuat saya sedikit kalem melewati hari-hari sibuk saya belakangan ini.. terimakasih Allah, masih dikasih sibuk, masih dikasih percaya untuk banyak belajar lagi. Jika menjadi kuat bisa mewakili rasa syukur untuk semua anugerah-Mu, maka saya memilih kuat dan cukup Engkau yang mahatahu tentang segala hal yang melemahkanku.


--Baji gau, 05 Januari 2014.

Hari ini Bapak ulang tahun, barakallahu Bapak.. Anakmu ini, bagaimanapun tetaplah anak-anak, tetaplah bocah ingusan. Terimakasih telah banyak mengajari saya bagaimana mencintai dengan tulus. Salam sayang dan hormat dari jauh.

6 comments

  1. semoga bapaknya barokah disisa umur ya mbak :)

    ReplyDelete
  2. Saya juga suka sama buku itu mbak :)

    ReplyDelete
  3. Dan yg paling bagus adalah ketika si bocah disuruh "sang guru" utk menikmati galerinya dengan memegang sendok berisi minyak untuk tidak tumpah. Menikmati hidup namun tetap berpegang pada aturan. :)

    eh... itu yg dibawah novel, Al Qur'an terjemah kan?
    btw, Barokallohu utk Bapak ya.

    ReplyDelete