Powered by Blogger.

Stop crying, you deserve better

Pada satu pertemuan, sahabat saya bercerita tentang kondisi hatinya. Sepenglihatan saya, dia belum sepenuhnya bisa bangkit dari keterpurukan hati. Yah, sadar atau tidak kita semua adalah pelaku dari setiap sakit yang dirasakan oleh hati, jadi, jangan selalu menganggap diri adalah korban, dan teman saya ini baru saja dibuat patah hati oleh pria yang dicintainya, dia merasa jadi korban.

Sebenarnya saya belum begitu kenal dengan pemeran utama pria dalam cerita ini, tapi seperti yang selalu diulang-ulang oleh sahabat saya bahwa pria ini adalah cerminan diri saya. Mati rasa, tidak perdulian, cara berfikir dan bagaimana kami menyikapi segala sesuatu yang terjadi, termasuk dalam hal pengambilan keputusan, nyaris sama. Sayapun penasaran dengan pria itu, maka dirancanglah satu pertemuan antara saya dan diri lain saya itu, dia. Kami bertemu, dan mungkin karena sudah termakan sugesti dari sahabat saya ini bahwa kami sama, makanya pada pertemuan pertama kami langsung bisa akrab, bercerita apa saja dan menertawakannya. Natural saja. Saya kira mungkin karena waktu itu didekat kami ada sahabat saya, jika saya dan dia benar-benar sama, maka pikiran kami sama: harus saling respect satu sama lain karena saya dan dia adalah orang yang sama-sama istimewa dihati sahabat saya. Sama-sama tidak ingin merusak suasana. Tapi tidak juga, saat dalam perjalanan mengantarkan saya pulang, kami terlibat dalam obrolan yang tak kalah mengasyikkannya, dia banyak menceritakan tentang dirinya dan ide-idenya. Nice guy. Bahkan beberapa hari setelah pertemuan itu kami sering berkomunikasi, yah.. (mungkin) kami memang sama, walau saya sama sekali tidak melihat persamaan itu.

Saya menceritakan semua bentuk komunikasi kami berikut bahasannya pada sahabat saya. Dan memberikannya satu kesimpulan penting; pantas jatuh cinta, walau keras kepala, menyebalkan dan terkadang sukar ditebak, orang seperti kami tetaplah istimewa. Anggap saja begitu, haha.. :p

Saya tahu dengan jelas, hati, tidak pernah meminta pertimbangan kepada akal untuk jatuh pada siapa, tahu-tahu sudah nyaman saja, dan rentan patah saat tidak menemukan kenyamanan yang sama. Tapi kan kita sama-sama tahu, semesta bergerak, tidak ada yang tidak berubah, mungkin begitu pula dengan perasaan, dengan hati. Jangan egois, nyaman itu bukan tentang aku ada kamu, tapi tentang kita.

Pada pertemuan malam itu, sahabat saya meminta untuk saya menemui pemeran utama pria. Mungkin dengan “samanya kami” dia menganggap saya lebih bisa menjelaskan dengan baik tentang perasaan sahabat saya, bahwa dia menyayanginya, bahwa sahabat saya bukan penjahat hati, bahwa dia pun sudah banyak mengalah untuk hubungan mereka. Bagi saya ini lelucon. Hubungan macam apa yang butuh orang ketiga untuk saling meyakinkan? Jika baginya kamu baik, maka dia tak akan melepaskanmu begitu saja, instrospeksilah: mungkin untuknya kamu belum cukup baik.

Jika dia butuh jarak, maka beri dia jarak.

Jika kamu takut dengan adanya jarak, dia akan menemukan orang lain, yah (mungkin) sebenarnya kamu pun masih meragukan dia. Jangan bermimpi bisa meyakinkan orang lain saat dirimu pun sebenarnya belum yakin. Dan jika benar dia akhirnya menemukan orang lain, menangislah karena itu benar sakit, lalu kemudian berdirilah karena air matamu tidak bisa merubah apa-apa. Semua orang mencari yang terbaik dan kamu beserta waktu dan kenangan manismu tidak sama sekali berhak menghalanginya. Selain bangkit, kamu bisa apa?

Stop crying, you deserve better..

Cukup pantaskan dirimu, jadilah pribadi yang baik, berdoalah, Allah akan menjawabnya pada dua pilihan: hatinya ditetapkan untukmu atau hatimu yang dicukupkan oleh cinta-Nya sampai saat hatimu menemukan rumah sebenarnya. Mungkin rumah itu memang dia, hanya jalannya saja yang dibuat lebih berliku, atau mungkin pada orang lain yang sampai hari ini belum dipertemukan denganmu hingga kamu dibuatnya yakin. Hidup itu mistery, kenyataan adalah kejutan dan akan selalu begitu. Jangan pernah menebak-nebak siapa jodohmu sampai dia didatangkan padamu. Jika hanya persoalan hati saja kita sudah sebegitu rapuhnya, bagaimana kita bisa menghadapi dunia dan segala macam permasalahnya? Kita ini perempuan, kelak, jika Allah mengizinkan, kita akan memiliki suami dan anak-anak yang harus kita hebatkan.

Save your power dear, jangan habiskan banyak energi pada satu permasalahan.

---
p.s. orang paling keras kepala didunia adalah orang pata hati. serius!

4 comments

  1. Sukaaa bangeetttt mbak sama tulisannya... keep writing yaaa :*

    ReplyDelete
  2. like like like..*sambil memarahi diri sendiri kenapa sy hampir setahun ga pernah menegokmu* hugs buat syam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. peluk balik :))

      *skr syam udah besar tanteee, gak suka menye2 lagi kayak dulu. hehe. terlalu banyak aib, hehe*

      salam rindu tant.

      Delete