Powered by Blogger.

Me, Photography and Nikon D3000

Kemarin saya janjian ketemu sama orang disalah satu warung kopi di Mari, kita transaksi, ngobrol-ngobrol soal kamera dan fotografi, tidak panjang sih, obrolan sederhana saja, maklumlah  walau sudah cukup lama pegang kamera DSLR pengetahuan saya tentang dunia per-fotografi-an itu ya gitu-gitu saja. Gak nambah, ketertarikan saya hanya banyak pada angel dan tone gambar, yang lain asli saya tidak begitu minat untuk eksplore lebih jauh. Bagi saya motret itu sama kayak dengar lagu, gak perlu tahu secara mendetail, asal enak aja, lihat/dengernya. Personal sih sifatnya, sesuai selera. Yang protes awas!!! :p

Okeh, kalimat diatas adalah hanyalah pembelaan semata dari seseorang yang MALAS BELAJAR!

Kembali kesoalan pertemuan tadi, jadi, saya itu ketemuan dengan suami junior saya dulu dikampus; Diana. Dalam banyak perbincangan via WAmesengger, SMS, dan teleponan akhirnya saya sepakat dan mantap untuk mengoper satu dari beberapa benda yang menjadi soulmate saya selama kurun waktu 3tahun 7bulan; Nikon D3000 + Lens Nikkor 18-55mm, beserta kelengkapan yang saya beli terpisah; tripod, filter UV dan tas kamera helolulu pink-hitam kesayangan. Sedih? Pastinya..


Me, photography and D3K


Sebenarnya saya tidak pernah membuka jalur promosi untuk menjual kamera kesayangan, hanya saja kurang lebih dua tahun yang lalu saya dan Diana ini pernah ngobrol dengan tema random seperti biasanya dan ujung-ujungnya bikin saya mengeluarkan pernyataan kurang lebih seperti ini “mauka kayaknya jual kameraku deh, mauka ganti dengan kamera yang speknya lebih tinggi” waktu itu mungkin saya ada dalam kondisi lapar mata, masih sering eksplore dunia per-fotografi-an, mulai setres dengan noise D3K, ngiler kalau liat hasil jepretan D90 apalagi teman-teman sesama pengguna D3K hanya dalam hitungan 3-5bulan kepemilikan sudah langsung upgrade ke D90, atau mupeng dengan kehalusan gambar-gambar yang diproduksi oleh kamera Canon dengan spek sejenislah; 1000D, 550D. Akh, rumput tetangga selalu lebih indah memang, padahal rumput sendiri yang kurang perhatian. 

Dari situlah sebenarnya, asal muasal saya mulai menarik diri dari dunia ngumpul-ngumpul sesama penyuka fotografi, online maupun offline. Hihi, kasian yak saya.. minder ini jatohnya. Haha.. tapi ndak lah, saya memilih untuk sendirian mengeksplore apa yang lebih dari senjata saya, komunitas-komunitas itu bikin iman saya rentan godaan buat ikut-ikutan upgrade, upgrade dan upgrade, cita-cita kalau ada duit mau ganti bodylah, beli lensa ini-itulah, beli flash, ah damn! sementara saya sadar sesadar-sadarnya pertambahan ilmu saya tidak sebanding dengan besarnya mau saya untuk upgrade dan lagi butuh modal yang cukup besar untuk terjun dihobby ini. Alhamdulillahnya, itu semua selalu hanya ada pada batas rencana, rencana dan rencana, karena memang saya KERE! Haha, sekalinya ada duit pun, niatan untuk upgrade akan tertutupi dengan hal lain yang sifatnya jauh lebih penting. Makanya sampai saya melepaskan kamera D3K, saya ternyata hanya nambah buat beli filter UV karena memang lebih difungsikan untuk melindungi lensa dari benturan, saya juga beli tripod murah, haha.. lumanyan bisa narsisan berjama’ah kalau lagi dalam rombongan dan tiba-tiba semuanya mengaku tidak ngerti bagaimana caranya pegang kamera DSLR, mendadak bangga dibilang katrok, haha.. bilang saja ndak mau ketinggalan foto, hadeuh -_-“

Keluar dari komunitas, bukan berarti saya berhenti motret, tetap lah saya suka foto-foto random apa saja yang ada didepan saya, klik-klik-klik, seolah-olah tidak perduli kalau kamera digital pun ada umur kliknya (shutter counter – SC), hehe.. apalagi sejak saya keranjingan jalan-jalan, beuh, kamera saya adalah benda yang tidak akan pernah tanggal dari badan saya. Kita merekam banyak moment, dibanyak tempat dengan berbagai macam ekspresi manusia, dan “mood” alam semesta. Saya mulai kagum dengan beberapa gambar yang ditake oleh diri saya sendiri. Dari sinilah saya kemudian faham dengan maksud seorang sahabat pada satu obrolan kami, bahwa: fotografi itu bukan soalan kamera apa yang dipakainya, tapi ide pemakainya. Akh, kece emang yah.. saya semakin cinta dengan dunia merekam gambar ini. Tapi saya tetap saja bebal, malas belajar soalan tekhnis lebih jauh. Tetap saja lebih banyak melihat-lihat gambar orang, apalagi kalau yang masuk dimajalah Exsposure, saya terperangah tanpa pernah benar-benar serius membaca keterangan penjelasnya. Akh, Syam… so you!


Yes or Not ???

Seminggu lalu, Diana menghubingi saya lagi dan menanyakan “masih mauki jual kamerata kak? Kalau iya, saya mau beli”, baca pesan singkat itu saya kemudian tersenyum.. saya pernah mengucapkan kata ingin menjual kamera saya hanya pada dua orang, salah satunya ya Diana ini. Lalu saya melupakannya begitu saja, dan sekarang tiba-tiba diingatkan lagi, tapi sudah dalam status “ditawar pembeli”. Saya ragu sebenarnya, antara mau bilang iya atau tidak.

Tidak. Pertimbangannya karena D3K ini adalah barang yang saya dapat dengan mengumpulkan penghasilan ditahun pertama saya bekerja. Apalagi kondisinya masih oke, sejauh ini tidak pernah ada masalah, sangat bersahabat bahkan. Saya juga sempat berfikir, dengan harga kamera keluaran terbaru yang semakin lama semakin melangit apa saya bisa dapat kamera dengan kualitas yang sama dengan budget pas-pasan?

Ya. Pertimbangannya karena saya mencintai fotografi, tapi saya mulai kelelahan menenteng kamera ukuran SLR kemana-mana. Mau beli kamera pocket, tapi dengan status ada kamera SLR itu sama dengan pemborosan, hidup berlebihan.. tadinya saya dilenakan dengan kamera bawaan Handphone Oblek saya yang kualitas gambarnya lumayanlah yah, tapi baru juga take beberapa kali hapenya sudah minta di-isi daya lagi, repotinlah jadinya. Apalagi sekarang saya ndak begitu minat lagi dengan dunia dibalik smartphone, jadi kemana-mana cuman bawa hape standart. Smartphonenya cuman dipake malam hari, itupun dialih fungsi jadi hotspot portable, sesekali dipakai balas-balasin watsapp/line dari teman. Haha.. Intinya, untuk saat ini dan kedepannya saya butuhlah kamera yang lebih ringkas, dan bisa dibawah kemana-mana tanpa repot dengan ukuran/berat dan ketahanan batterainya, kualitas gambar pun tetap jadi prioritas untuk saya. Titik.

Dan keputusanya adalah, YA!

Saya membeli kamera D3K itu tanggal 6 Agustus 2010 dengan harga 4,6juta. Ada postingannya disini. Lewat pembicaraan via telepon saya oper (bonus tripod dan tas) diharga 3juta, DEAL!! Tapi harus turun lagi karena kabel datanya entah dimana, terus karet view findernya itu saya lupa kalau kondisinya sobek, tas bawaan yang tiba-tiba resletingnya ngadat dan juga memory card yang mendadak nge-hang; tidak terbaca, padahal satu jam sebelum ketemu pembeli mereka masih baik-baik saja, oke saya anggap saja tas bawaan dan memory itu hanya ingin bekerja pada saya jadi setelah pindah tangan merekapun memutuskan untuk pensiun. Akh, jadi terharu… *lebay*

Karena saya pernah punya pengalaman buruk membeli barang second, yang langsung menyesal dihari kedua setelah membeli barang karena mendadak RUSAK TOTAL dan TIDAK BISA DIKEMBALIKAN. Saya pun tidak ingin orang lain punya pengalaman yang sama, apalagi itu dengan saya. Makanya saya kasih mereka pinjam kamera saya dulu, seminggulah batasnya, dipake saja dulu, kalau suka transfer kalau ndak ya dikembalikan. Toh memang bukan saya jual karena butuh duit, tapi lebih ke butuh kamera yang lebih mewadahi mau saya. Dan setelah dicoba, diperiksa dan didiskusikan lebih jauh; mesinnya masih OK, shutter countnya sudah lebih 20ribuan, wadaw, sadis juga saya makenya.. tapi setahu saya dan setelah saya searching lebih jauh ternyata untuk kamera D3K hitungan SC itu sekitar 50ribuan lebih, jadi menurut saya masih amanlah yah.

Dengan kerusakan-kerusakan minor yang ada, dan juga pengaruh hubungan emosional antara saya dan Diana yang begitu inginnya dengan D3K saya, dan juga mengingat saya yang entah kenapa dua kali dikasih lupa bawa kamera pada dua agenda liburan keluar kota saya sebelumnya (padahal kalo kemana-mana kamera ndak pernah ketinggalan, kecuali saya memang merencanakan tidak membawa), plus ini kamera memang sudah nganggur sejak bulan Januari 2014, jadi kita dealnya diangka 2,8jt. SAH!!!


Me vs. My wishlist..

Well, sebagai manusia normal tentunya kita masing-masing dikarunia rasa: ingin. Rasa yang kadang lebih besar dari rasa: butuh. Jatohnya malah kadang kita kabur, tumpang tindih, mana yang sekedar ingin mana yang benar-benar butuh. Bingung? Sama!!! haha..

Intinya sih, setelah melepaskan D3K saya kemudian memutuskan untuk move-on dari kamera DSLR yang berat dan ribet itu ke kamera semi pro dikelas prosumer atau mirrorless yang lebih enak dibawa kemana-mana. Pilihannya banyak banget, dengan range harga yang tidak murah ternyata. Untuk hal-hal yang benar-benar saya inginkan/butuhkan, saya tidak pernah ingin terburu-buru dulu untuk mendapatkannya. Saya malah butuh waktu, memilah dan memilih biar nantinya tidak menyesal. Seperti keputusan terbaik saya memilih D3K, setelah ribet meng-compare sana sini dengan kamera sekelasnya: Sony alpha 230 dan Canon 1000D, dijamannya.

Oia, saya mengincar salah satu dari mereka dibawah ini:
  1.  Ricoh GR
  2.  Sony RX100
  3. Canon powershoot G1x
  4. Canon powershoot G16
  5. Nikon coolpix p7700

Tapi dengan budget 2,8jt saya musti banyak-banyak bersabar dulu, sabarnya sambil baca-baca review biar makin mantap milihnya, sambil ngumpulin duit juga tentunya dan tak lupa berdoa agar ekonomi Negara kita semakin membaik, kesejahteraan meningkat, harga dollar turun dan yak satu dari mereka diatas pun akan jatuh ketangan saya dengan indah.

Amin.

2 comments

  1. duh saya nggak ngerti kamera mbak heehe

    ReplyDelete
  2. memang berat kalo mau bawa2 ya, mba. lebih enak yang kecil hehe

    ReplyDelete