Powered by Blogger.

Ide-ide Pandji, part. I - Gay


Saya suka dengan Pandji, tapi tidak dengan beberapa pemikirannya. Salah satunya tentang Gay, salah duanya tentang penyebab utama terjadinya kasus pemerkosaan. Pandji mendukung kaum Gay, melihat Gay bukan satu “penyakit”, bukan kesalahan dan penting untuk diberikan tempat “samarata” dimata public, pun Pandji berpendapat bahwa terjadinya kasus pemerkosaan itu bukan karena perempuan tidak menjaga auratnya dengan baik, tapi lebih pada kaum laki-laki yang tidak mendidik kelaminnya dengan baik. Ya, Allah.. jauhkan kami dari kemaksiatan, bahkan jika itu hanya ada dalam pikiran kami. 

Hati-hati terjebak dalam sekularisme berlebihan, salah-salah justru bisa mengaburkan nilai-nilai kebenaran. Allhualam.. saya berbicara atas nama pribadi dengan pengetahuan tak seberapa dalam, tapi sejauh ini apa yang disampaikan oleh Pandji sebagai public figure yang didengarkan oleh banyak orang dengan anggukan dan tawa yang begitu khidmat, bisa jadi sangat berbahaya bagi generasi muda yang kebanyakan lebih senang menerima ilmu ketimbang mencari ilmu.

Sadar atau tidak, musuh terbesar manusia saat ini adalah Media. Media yang membuat GAY dan perempuan berpakaian seronok menjadi hal yang wajar, tidak salah atas nama hak asasi manusia, bebas bertanggung jawab. Media melahirkan figure contoh yang kebanyakan justru tak layak dicontoh. Lewat media, kebudayaan, kebiasaan dan aturan antara satu wilayah/suku/agama saling bertemu, bersinggungan bahkan bisa untuk saling meniadakan makna antara satu sama lain. Hingga lahirlah yang namanya gaya hidup. Banyak hal-hal yang sebenarnya diluar nalar wajar dan kebiasaan manusia yang pada akhirnya bisa diterima begitu saja karena dianggap keren, oh ternyata kita tidak sendiri, dan sebagainya pembenaran yang sifatnya memberikan dukungan untuk bebasjaya melakukan hal-hal aneh tersebut.

GAY/LESBI/TRANSGENDER/BISEKSUAL memang bukan penyakit menular, tapi mewajarkan fenomena tersebut dan menerimanya sebagai bagian dari hidup modern saat ini sama artinya dengan kita membuka kesempatan untuk kita menjadi bagian didalamnya. Jika bukan kita, lama-kelamaan keluarga dekat, anak, cucu pun bisa memiliki kecenderungan orientasi seks menyimpang jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.. Naudzubillah. Saya percaya semua manusia dilahirkan dalam kondisi fitrah jiwanya, yang membedakannya adalah siapa yang membesarkannya dan dilingkungan seperti apa mereka dibesarkan. Manusia baik, manusia tidak baik, itu adalah bentukan hidup.. tidak ada manusia yang benar-benar jahat, yang ada hanyalah manusia “sakit” yang tidak dapat mengendalikan hawanafsunya.

Hal yang paling banyak menyebabkan terjadinya orientasi seksual menyimpang adalah trauma masalalu, keluarga tidak harmonis, broken home, lapar figur ayah/ibu, hingga memunculkan ketakutan-ketakutan yang dipersepsikannya sendiri tentang masa depan. Hidup dalam ilusi. Jadi bisa saya simpulkan bahwa penyimpangan seks yang terjadi tidak lebih dari ketidak mampuan manusia “bertahan” dengan segala ujian hidup yang diberikan oleh Allah. Ditambah lagi mereka tidak memiliki ilmu yang mumpuni untuk membedakan benar/salah, kemudian terjerumus dalam pergaulan yang tidak juga mangarahkan mereka pada kebaikan dan akhirnya bablas.. Jelas ini pemberontakan; jiwa dan mental cacat!

Tapi ini jadi semacam lelucon, diluar sana (atas nama HAK ASASI MANUSIA) mulai banyak dibentuk komunitas-komunitas pembela kaum orientasi seks menyimpang. Pembela kaum minoritas yang katanya banyak dilecehkan, bahkan tak jarang kita dikaburkan; mana pelaku mana korban, jika kemudian ditemukan kasus bunuh diri akibat depresi; ditolak lingkungan. Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa kemungkaran berserakan dimana-mana..

Maka dari itu, mari kita bersuara pada hal-hal tidak benar yang dapat merusak keberlangsungan hidup umat manusia, nyatakan sikap melawan dengan sebaik-baiknya perlawanan. Bukan dengan mencibir, tapi dengan berbicara.. luka akibat traumatik hanya bisa disembuhkan dengan komunikasi dari hati ke-hati. Dan atas izin Allah, tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh jika kita mau dan berusaha keras untuk menyembuhkannya.

3 comments

  1. Saya sepenuhnya setuju sama pendapat Mbak Syam ttg ini. di Jaman ini, benar dan salah semakin abu-abu. Yang benar dianggap seolah aneh sekali, yg salah dianggap wajar dan nggak masalah. Kita memang harus bicara atas hal-hal yg kita yakini kebenarannya... kalopun nggak banyak memberikan pengaruh, setidaknya kita telah membuktikan bahwa kita tidak hanya diam termangu tak melakukan apa-apa. Aahhh, perih sekali mengingat fenomena yg semakin mengerikan ini...

    ReplyDelete
  2. Nice post, Syam.

    Media yang membuat GAY dan perempuan berpakaian seronok menjadi hal yang wajar, tidak salah atas nama hak asasi manusia, bebas bertanggung jawab. <<== Emang bener. Media pelan2 mengubah cara pandang masyarakat. Kaya banci. Dulu, berasa tabu gitu, setelah sering diekspos media, masyarakat jadi terbiasa dan menganggapnya "normal". Jadi inget metode membunuh katak dengan menaikkan suhu air sedikit demi sedikit tanpa disadari si katak.

    ReplyDelete
  3. Satu lagi. Pandji ini juga gencar mengampanyekan legalisasi ganja. Dan kalau banyak yang mendukung kampanyenya, bahaya besar.

    ReplyDelete