obrolan rarasekar via tumblr

May 02, 2014

A:Apalah arti pulang ketika setiap tempat senantiasa berbisik perlahan, "Aku adalah rumah."
A:Adakah rumah terbatas pada usia, pada harum bunga di halaman depan, atau memori yang tertinggal di bawah bantal kesayangan?
B:Sebenarnya, tak perlu kita pulang untuk bertemu rumah.
A:Maksudmu? Apa mungkin, pulang diciptakan agar ada alasan untuk pergi?
A:Barangkali, kita tidak pernah benar-benar pulang atau pergi?
A:Barangkali, pergi sebenarnya adalah pulang, begitupula pulang sesungguhnya adalah pergi.
A:(mengambil nafas dalam)
A:(diam sejenak, membiarkan pikirannya meliar)
B:Barangkali, kita semua hanya sedang menunggu untuk bangun dari mimpi?
B:(membiarkan waktu untuk memberi jeda di antara sela-sela pikirannya, gaung setiap katanya terdengar bersautan di belakang kepala)
A:Kalau memang begitu adanya, kurasa tak apa.
A:Sebab tidak semua mimpi tak nyata. Mungkin juga, tidak semua pulang ke rumah dan setiap pergi itu ke sana.
B:(menutup mata, berserah pada gaduhnya lompatan pikiran, lalu perlahan membuka mata)
B:Aku ingin jadi mimpi yang nyata dan nyata yang tak ada.
A:(tertawa kecil)
A:Suatu saat kita akan ada di sana.
B:Di sana...
B:Apa mungkin itu yang mereka maksud dengan rumah?
A:Mungkin. Mungkin saja ia rumah... atau mungkin juga bukan.
A:Tapi aku yakin untuk berada di sana, kita tak perlu lagi pulang atau pergi.
B:Hahaha, kamu ini gila. Pembicaraan ini sudah gila.
A:Tak ada salahnya kan bermimpi?
A:Mungkin saja kita bisa menjadi mimpi yang nyata
B:...dan nyata yang tak ada.
B:Hahaha.. Di sana ya?
A:Iya, aku tunggu kamu di sana.

You Might Also Like

0 Comment

Instagram