Hidup di Rindam jaya (6D)

August 04, 2014

Dua bulan empat hari saya berada jauh dari rumah, terhitung mulai tanggal 18 Mei - 22 Juli 2014. Untuk sementara saya hidup di dua kota berisik, Jakarta dan Bogor. Keberadaan saya di dua kota tersebut adalah dalam rangka tugas belajar dari negara bersama 178 orang lainnya yang berasal dari sabang sampai merauke. Saya belum cerita disini soalan saya yang diterima menjadi salah satu abdi negara di salah satu lembaga negara non kementrian per tanggal 24 Desember 2013 lalu. Mungkin bagi beberapa orang yang mengenal saya, utamanya teman semasa SMA dan KULIAH takjub mendengar keputusan saya, ya dulu saya ada dalam barisan menolak menjadi PNS garis keras, tapi yah... semesta ini cair, hidup mengalir seperti air. Pada satu kesempatan, saya akhirnya memutuskan untuk resign, niat saya jelas ubah haluan.. menjadi PNS. Harapan saya tidak muluk-muluk, saya ingin bekerja-berpenghasilan-berkeluarga.

Man proposes, GOD disposes.
Semoga Allah menjaga saya..

Hidup mengajarkan saya untuk tidak lagi mudah mempersilahkan orang-orang baru masuk dalam kehidupan saya. Untuk seorang yang posesif plus melankolik seperti saya, perpisahan itu sakit bung! Keberadaan kami disini jelas, ada untuk bersama kemudian akan dikirim kepenempatan masing-masing, dan kemudian hanya takdir yang bisa mempertemukan kami lagi.. Maka dari itu, sejak awal saya menginjakkan kaki di Markas besar Rindam Jaya Jakarta Timur, saya bertekad bahwa saya disini hanya untuk melaksanakan tahapan hidup saya demi menjadi bagian dari pelayan masyarakat. Belajar, bergaul seperlunya saja dan hati tidak boleh ikut-ikutan.

Kehidupan di Rindam itu amat sangat keras, kami dilatih dan dididik layaknya calon tentara yang memang dipersiapkan untuk perang, untuk dibunuh.. akh, diawal-awal saya benar-benar tidak bisa menyesuaikan diri. Waktu sosialisasi kami pun sedikit. Saya hanya berbicara kepada orang yang memulai duluan, tidak ada sama sekali niatan saya untuk bergaul, dipikiran saya hanyalah saya harus bisa bertahan hidup ditempat ini. Ditempat yang mana saya hanya bisa menjadi diri saya sendiri hanya dalam hitungan empat jam setiap harinya, pukul 11:00PM-03:00AM. Sisanya saya menjadi robot dengan seragam hijau, sepatu laras yang rasanya kadang lebih berat dari beban hidup saya, kopel rim dan topi yang selalu harus ada diatas kepala. Ruang makan dan kamar mandi yang... ah, sudahlah. Saya mungkin akan selalu mengingat setiap moment selama di Rindam Jaya, tapi tidak akan merindukannya.

Bapak saya tentara. Enam hari saya melihat dengan mata kelapa sendiri bagaimana tentara-tentara itu dilatih disini, membuat saya berfikir: kelak, anak saya tidak usah jadi tentara. Kasian. Tapi yah, setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing.. saya yakin, mereka para tentara-tentara baru itu pasti sudah siap jiwa dan raga menerima perlakuan yang bagi saya tidak masuk akal ini, tugas kenegaraan yang mereka emban nantinya menuntut fisik dan mental baja. Mereka memang hanya bisa diam dan menerima semua perintah dan sanksi dari para pelatih, melanggar perintah/aturan pelatih adalah dosa besar disini. Setiap dinding ditoilet dan barak "berbicara" banyak, mereka hanya bisa menulis dan menumpahkan semua perasaannya lewat media itu; kangen keluarga, suami/istri, anak, pacar, kehidupan dan kebebasan. Istimewanya adalah, dinding-dinding tersebut adalah hiburan tersendiri bagi saya, rasanya seperti membaca kehidupan para sosialita di akun sosial media. Mungkin lewat tulisan-tulisan ditoilet itu mereka hanya ingin memberi sinyal kepada orang-orang baru yang "terpaksa" harus melewati hari-hari dirindam, bahwa rasanya ya memang seperti itu. PAHIT tapi harus ditelan juga. You're not alone.

Kami disini anak didik titipan instansi kami, latihan kami jauh berkali-kali lebih ringan dari mereka, kami masih bisa pegang hape dan menelepon orang-orang yang bisa menguatkan mental kami. Lewat telepon, setiap malam Mamak menemani saya. Sesekali Bapak ikut bercerita bahwa memang seperti itulah sukaduka menjadi tentara. Ah, sepenglihatan saya tidak ada sukanya pak.. hanya memang, situasi seperti ini hanya bisa kita lewati dengan mudah ketika kita berdamai dengan "kenyataan", saya mulai bisa menikmati alur hidup dirindam setelah hari ketiga, tepatnya setelah baju seragam ijo kami yang dipakai sejak dari hari senin sampai hari rabu malam dari pukul 03:00AM-10:00PM, dengan aktivitas yang luarbiasa mengalirkan keringat, mandi debu, selonjoran ditanah/lantai pada setiap sudut rindam jaya, setiap dalam kondisi baris ataupun saat kerumun dengan teman kelompok aroma kami bercampur dan tak terdefinisikan lagi apa jenis aroma campuran yang kami hasilkan, diperintahkan untuk dicuci.. melepaskan baju ijo itu rasanya seperti melepaskan 75% beban hidup saya dirindam, i'm aliveeee... *fiuhhh!

Saya belajar banyak di Rindam Jaya, banyak banget.. 
  1. Belajar hidup dalam kesusahan dan ya, kata mereka kebersamaan dalam kesusahan.. apalah, intinya dirindam inilah makan nasi putih didorong pake aer putih, makan bukan karena lapar tapi karena badan butuh asupan energi, mandi superduper cepat karena waktu yang dikasih juga cuman sebentar, yang paling bikin setres toiletnya itu. Jauh dari kata sehat, tapi yang penting bisa boker sih sudah cukup. Ini rindam cuy, bukan hotel..
  2. Belajar pakai sepatu laras yang luar biasa ribetnya itu hanya dalam waktu tak kurang dari satu menit.
  3. Belajar merapikan tempat tidur, bersih dan kencang sampai kalo ada koin yang jatoh ke kasur koinnya mental saking kencengnya. Ini kalo sepreinya gak kenceng, terus masih ada barang-barang selain bantal disekitaran tempat tidur, gantungan handuk atau baju/kain, kita dapat ekstra push-up dan sit-up dibawah sinar matahari. Ada satu orang yang salah, semualah kena.
  4. Ini belajar apa bukan, entahlah. Pokoknya hanya dirindam inilah saya bisa tidur diruang kelas, tidur dalam barisan, dan paling sempurna tidur saat apel malam. Luar biasa bukan?! Skejul kami dirindam padat luarbiasa, dan sangat menguras energi sementara asupan makanan dan waktu istirahat tidak mengimbangi, wajarlah kami semua capek. Tidur itu manusiawi. Dan kami manusia, bukan robot..
  5. Pelajaran pamungkas dirindam jaya adalah disiplin dan kebersamaan. Semua materi yang sifatnya sangat teoritis itu, plus pelajaran baris-berbaris itu semua cuman kedok.. tidak akan ada pelajaran yang diperoleh jika fisik, otak dan mental tidak dalam kondisi yang "enak". 
  6. Tentara jago goyang dan nyani dangdutan, satu lagi.. OTAK MEREKA NGERESSS. Setres! Saya belajar senam komando ya sejenislah dengan goyang poco-poco, backsoundnya pakai lagu Rita sugiarto yang judulnya dua kursi, lagu dangdut yang belakangan sangat menghibur. Saya suka :))
  7. Saat apel, secara acak kami akan dipanggil untuk memimpin membacakan PANCASILA. Dan ternyata banyak diantara kami yang terbata-bata melafalkan pancasila, entah karena grogi, tidak fokus atau memang tidak hafal. Dari rindam inilah kemudian muncul gerombolan yang menamakan diri PKI, anggotanya mereka-mereka yang tidak bisa hafalkan pancasila. Buseeeet! Pelajarannya adalah, hmm.. kelompok akan terbentuk bukan hanya jika ada tujuan bersama, tapi juga latar belakang yang sama yang akhirnya juga melahirkan tujuan yang sama. Mungkin mereka mau ngapalin pancasila sama-sama. Entahlah.
  8. Terkadang, kita memang harus menjalani tahapan hidup yang bukan mau kita, tapi sadar/tidak sadar itu adalah pilihan kita. Ya itulah hidup, kalau kata teman saya: Tidak semua tentang kamu. 

Pasukan Pleton 3!
Sebagian penghuni barak 1

Itulah, saya dan semua hal yang saya alami di rindam jaya.. saya melewati enam hari diRindam jaya 19-24 Mei 2014 bersama teman-teman di pleton 3 yang entah siapa mereka, benar-benar kami satu sama lain tidak lagi sempat berkenalan pun kami hanya berfoto ria saat setelah outbond dan penutupan. Saat kulit sudah nyaris sama dengan warna tanah. Tidak ada sosialisasi yang berarti. Selain itu, saya juga menjadi bagian dari teman-teman yang tidur dibarak 1 berjumlah 46 orang perempuan yang berasal dari berbagai daerah. Senang bisa bersama kalian semua, walau saya tak sempat bicara dengan kalian satu persatu tapi setidaknya kita masih bisa menertawakan kesulitan yang kita lalui sama-sama dalam satu nada, dan yang paling penting kita bisa keluar dan dinyatakan sebagai Alumni Rindam Jaya dengan kondisi masih hidup, sehat jiwa sehat raga, ya.. walau kita semua kena penyakit yang sama: BIANG KERINGAT. 

Tanggal 25 Mei 2014, dari Rindam Jaya kami diangkut dengan 4 unit mobil tentara bak besar ke Bogor untuk memasuki tahapan selanjutnya..

RINDAM JAYAAAAAA!!!

@syamatahari

You Might Also Like

5 Comment

  1. Semangat yah. Setiap orang memiliki kisahnya masing2 ^_^

    ReplyDelete
  2. Hi hi Syam Matahari. Saya sudah baca tulisan blog ini. Oh ya saya sudah follow juga di Twiiternya. Dari Makasar kah Soalnya di TWitter tercantum profil dari Makasar, Blogger merangkap Photo Taker heiheihee Mantap nih banyak kegiatannya ya. Soal RIndam Jatya, saya turut bangga pada mu. Disiplin mengajarkan kita untuk tetap fokus pada apa yang sedang dikerjakan

    ReplyDelete
  3. Waahhh.... kabar bahagian plus mencengangkan dari Rumah Matahari :))

    Selamat Mbak Syam, selamat berjuang!! :)

    ReplyDelete
  4. Saya mengucapkan minal aidin walfaidin mohon maaf lahir dan batin, salam

    ReplyDelete

Instagram