Lembah Ramma, Gowa-Sulawesi selatan

August 22, 2014


Saya menghabiskan libur panjang diminggu terakhir bersama teman-teman HK, yang masing-masing juga membawa teman, yang pada akhirnya juga menjadi teman saya. Teman seperjalanan menuju lembah Ramma, yang terletak di kaki gunung Bawakaraeng, desa Lembanna/sekitar Malino, kabupaten Gowa, Sulawesi selatan.

Ini adalah pengalaman pertama saya naik gunung. Sebenarnya keinginan untuk naik gunung sudah ada sejak jaman kuliah, saya bilang kesahabat saya kalau sebelum lulus kuliah saya mau rasakan sensasi naik gunung, karena difikiran saya waktu itu, kalau bukan dengan anak-anak mapala difakultas, saya mau ke gunung dengan siapa lagi? Mumpung juga waktu-waktu itu kami lagi akrab dengan beberapa senior-senior di mapala fakultas. Tapi, begitu ada jadwal naik saya malah tidak bisa ikut.. kesempatan melayang begitu saja. Saya lulus kuliah. Yasudah.

Hingga beberapa minggu yang lalu, (atau hitungannya sekitar 10 tahun kemudian) waktu saya main ke kantor HK, Sule cerita kalau dia punya rencana naik gunung dengan teman mapala kampusnya dulu. Cuman berdua sih, makanya dia ngajakin sapatau mau ikutan. Walau ada ragu-ragu, saya bilang iya, mau! Dan akhirnya dari yang rencananya naik cuman berdua, kita jadinya naik ber-8orang. Saya, Sule, Istri dan dua temannya, Iman, Ama dan pacarnya. 4-cowok berpengalaman digunung, dan 4-cewek penasaran naik gunung.

Rundown acaranya kurang lebih seperti berikut ini:

15/08/2014, jam setengah sembilan malam saya diantar Bapak ke rumah Sule. Jam sembilan lebih semua sudah ngumpul, packing barang-barang, dan kami berangkat menuju ke Malino tepat pukul setengah sepuluh malam. Lama perjalanan sekitar 2 jam, sepanjang jalan menuju Malino lumayan banyak kita lewati pendaki-pendaki bermotor. Tiba di Malino kami nginap dirumah warga. Dinginnya mulai menusuk.

16/08/2014, pendakian kami mulai sekitar pukul sembilan tentunya setelah bersih-bersih, sarapan dan doa bersama. Selama kurang/lebih enam jam perjalanan: masuk hutan gelap, 4kali naik turun bukit yang masing-masing dibatasi oleh 4 anak sungai. Hingga akhirnya sampai di Talung. Saya kira pendakian berhenti di Talung, tapi tidak. Kami harus turun kedasar melewati jalur pendakian, medannya sempit dan curam, jurang depan mata, ternyata pendakian yang tadi yang cukup menguras energi itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan yang ini. Ada sedikit rasa sedih, kenapa saya bisa ada disini? Mempertaruhkan nyawa, kenikmatan apa coba yang saya cari? Sementara Allah memberikan banyak kenikmatan-kenikmatan sederhana disekeliling saya, yang saya bisa peroleh tanpa harus menyiksa diri seperti ini.

Fiuh.. fiuh.. menuruni tebing tinggi butuh konsentrasi tinggi. Walau dengan tertatih-tatih, toh saya berhasil turun dengan selamat. Karena kaki saya mulai ringkih, plus gemetaran gegara takut ketinggian, makanya saya lebih banyak menumpu pada tangan dan bokong, pakai gaya ngesot dan meluncur. Lucu memang, tapi segala upaya saya lakukan biar bisa sampai dengan selamat. Mau balik pun sudah tidak mungkin lagi. Siapa perduli dengan pendaki-pendaki wanita lainnya, atau pendaki anak-anak, kok mereka bisa kamu tidak?! Kalau mereka jago, yasudah jago aja, saya mah cukup tahu kapasitas saya. Bukan tidak sanggup atau tidak mampu. Saya bisa, tapi butuh waktu yang relatif lebih lama.

Nikmat Allah tak terdustakan, dan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga memang butuh perjuangan keras. Padang rumput yang dikelilingi oleh pegunungan dan bebatuan, ada bendera merah putih ditengah, pohon-pohon, dan tenda warna-warni. Tempat asing ini berubah menjadi perkampungan yang jauh dari kebisingan kota. Di malam hari saya bisa menikmati parade bintang, beberapa rombongan pendaki lain bahkan sengaja membawa petasan warna warni. Oh Allah. Ini sempurna!

17/08/2014, bangun sesubuh mungkin. Semalam saya memggigil, dinginnya gila-gilaan. Tetangga sebelah berisik pulak. Fiuh.. pemandangan pagi yang luar biasa awesome, amazing, perfecto! Indahnya ya Allah.. harga mati! Tenda kami tepat di tepi sungai yang mengalir, ya sudah langsung jongkok sambil maen aer sambil bersih-bersih. Masak buat sarapan dan cuss liatin anak-anak PA lagi upacara bendera. Biasanya kalo liat anak PA upacara 17-an di TV saya merinding, ini mah biasa aja. Entah kenapa.. gak ada emosinya sama sekali. Hahay!

Abis upacara kita bersih-bersih tenda, packing buat pulang. Lewat jalur yang sama tentunya, pasti bisaaaaaaaa!!! Kita jalan dari jam setengah sepuluh dan tiba di rumah warga tepat pukul tiga sore, lebih cepat dari waktu kemarin. Tapi rekor saya terpeleset pun juara, karena cuaca buruk, hujan kecil, kabut mengepung hutan yang kami lalui, pandangan agak gelap, jalan licin plus ditambah pendaki lain yang juga pulang rame-rame jadi kita ngantri. Tapi asik sih, walau saya ditinggal rombongan gegara jalan saya luar biasa lambat, tapi saya jalan sama Ama dan pacarnya ada ibu-ibu dan suaminya juga yang sepanjang jalan ngobrol lucu-lucuan.

Saya memang belum menapak dipuncak gunung, tapi sampai disinipun bagi saya sudah amat sangat amazing. Mensyukuri hal-hal kecil, berterimakasih kepada Allah karena telah diberi kesempatan untuk memeluk mimpi yang mungkin sudah mulai usang dimakan waktu.

Jadi, jika disuruh milih mau naik gunung atau diving? Untuk sementara ini sampai waktu yang entah kapan, saya memilih tidak keduanya. Nyali saya cuman muncul sekali, sekedar untuk mengobati rasa penasaran “gimanasih rasanya” lalu dalam perjalanan membatin “akh, nyeselll..” antara sanggup dan tidak sanggup tapi tetap percaya kalau jalanan yang luarbiasa repotnya ini pasti ada ujungnya juga hingga pada akhirnya berujar “Subhanallah, Allahuakbar..” rasa takjub karena keindahan alam itu nomor dua, yang paling pertama itu adalah karena gak nyangka saya bisa sampai ditempat tujuan. Menaklukkan ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh kepala saya sendiri.


:))

You Might Also Like

4 Comment

  1. sayang sekali gak ada fotonya yah

    ReplyDelete
  2. pernah diving juga kah bu presiden?
    Mau baca cerita nya dong..

    ReplyDelete
    Replies
    1. singkat aja sih ga, coba baca disini:
      http://www.syamatahari.com/2011/04/sebenarnya-saya-mau-post-perjalanan.html

      :))

      Delete

Instagram