Biarkan.. biarlah..

Seperti biasanya dua bulan belakangan ini saya selalu terbangun di jamjam yang terlampau pagi, pukul tiga dini hari.. mengecek jam, bukabuka tab, dan kemudian tak lama akan tertidur lagi. Tapi, pada bangun saya kali ini, saya merasakan ada yang hilang. Tapi saya berusaha tidak mau tahu dan tidak mencari tahu. Saya biarkan perasaan itu mengambang saja. Tentang apa dan mengapa. Mungkin lebih baik seperti itu, membiasakan diri menerima segala apa yang terjadi tanpa mempertanyakan terlalu dalam dan mendetail. Aneh memang sih, tapi yasudahlah.. biarkan.. biarlah.. sometimes, silence gives best answer.

Yang cukup membuat saya patah hati mungkin adalah keputusan seorang sahabat yang sudah tidak ingin ambil pusing dengan keberadaan saya dimuka bumi ini lagi, belum lama ini. Keputusan yang cukup menguras energy. Seberapa gigihpun saya coba mempertahankan, toh tidak akan seimbang kaki yang jalan hanya sebelah. Pasti pincang, tak berdaya. Ego.. ego.. emosi.. emosi.. hanya itu yang ada, dan mungkin melepaskan adalah jalan yang paling baik untuk saat ini. Karena saya percaya, yang sejati akan selalu menemukan alasan untuk pulang. Cukup pandangi langit lekatlekat, hirup udara dalamdalam, dan yakinkan selalu bahwa hati itu (seharusnya) semembentang angkasa. Luas tak berbatas.

Jika dulu saya adalah makhluk Allah yang paling sensitif dan rumit, sekarang saya memilih untuk menjadi makhluk Allah yang simpel saja. Saya sudah terlampau capek, dan mulai malas dengan kisah hati yang rumit.. tentang asmara, persahabatan, keluarga. Saya pingin naik kelas, masih banyak masalah yang harus saya selesaikan, energi muda saya terlalu siasia untuk saya habiskan dengan menimbangnimbang rasa. Berputar disitusitu saja. Saya bersyukur pernah merasakan patah hati keras, karena dari situ saya belajar bahwa hidup itu sebenarnya sederhana saja, pikiran manusianya yang terlampau rumit. Too much expectation.

Maka dari itu kepada siapapun saya sampaikan, datanglah jika ingin datang, kita nikmati waktuwaktu yang membahagiakan samasama dan jika (sudah) ingin pergi pun tak masalah.. bahagia saya, ceria saya, dan senyum saya bukan tanggung jawab siapasiapa, itu mutlak urusan saya, bentuk penerimaan saya terhadap hidup dan putusanputusan Allah.

“kamu harus baik sama orangorang, siapapun, tidak boleh pilihpilih” –Bapak
“jangan lupa sembahyang” –Ibuk

Mungkin memang, saya hanya butuh fokus. Selalu ingat pesan IbuBapak. Selalu ingat untuk menunjukkan rasa cinta, rasa perduli kepada siapapun dan apapun yang memaniskan hidup saya terlebih pada Allah. Dan untuk semua hal yang membuat saya patah, biarkan.. biarlah..

Gowa, 08 Maret 2015 08:52 AM

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

2 comments:

  1. jadi mahluk yang simpel itu bagaimana? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simpel itu ya tidak rumit.
      Tidak terlalu banyak harapan.
      Nothing tuluuuss.
      Santai.
      Sederhana.

      Haha. Pisss ;))

      Delete