Powered by Blogger.

Rongsokan

Belum lama ini seorang teman kelihatannya sibuk dengan isi lemarinya, katanya dia ditegur oleh mertuanya gara-gara si lemari sudah mulai out of space. Wajar sih, teman saya ini salah satu hijaber yang selalu terlihat chatcy dan update dengan semua busana-busana brandednya. Selalu ngepost foto OOTD setiap harinya, enak dilihatlah pokoknya, dan mahal. Saking updatenya, semua jenis baju, hijab, pants, outer, sampai sepatu dan tas yang sedang in dibelinya ditumpuk dan akhirnya sudah tidak muat masuk kedalam lemari. Alhasil, dia berniat untuk mengosongkan lemarinya dengan menjual semua isinya, membuat akun preloved for 2nd stuff di instagram.

Yang saya sayangkan adalah, barang-barang yang dijualnya itu hanya dipakai satu sampai dua kali, dibeli dengan harga selangit dan hanya mendapat harga sekian persen dari harga beli. Bayangkan saja, dress yang tadinya dia beli seharga 1juta lebih hanya dijual 70% saja. Teman saya ini mengerti dan tahu barang-barang branded dan berkualitas, daya belinya pun mumpuni untuk bisa memiliki barang-barang tersebut. Tapi bagi saya pribadi tetap sayang dengan pola belanja seperti itu, beli – pakai – jual. Semacam hanya membutuhkan social statement, jenis penyakit yang bermunculan di era digital saat ini.

Cerita berbeda, kemarin ibu kost saya sibuk bongkar-bongkar lemari. Dirumahnya tidak hanya ada satu lemari, banyak dan penuh dengan pakaian yang kebanyakan adalah pakaian pesta. Ada juga lemari yang isinya semua perhiasan bukan emas, lemari yang isinya sepatu pesta warna-warni, dan satu lagi lemari yang isinya tas. Kebanyakan kondisi dari barang-barang itu terlihat lusuh tak terawat, dari segi style-nya pun sudah out of date. Tapi tetap disimpan dalam lemari yang (mungkin) tidak lagi akan digunakan. Menjadi semacam rongsokan dari waktu kewaktu.

Ada kesamaan dari dua kisah ini yang bisa saya ambil pelajaran darinya, pun senada dengan nasihat Mama saya. Jangan boros. Berbelanjalah sesuai kebutuhan, bukan semata karena ingin terlihat *titiktitik*, jangan jadikan kepuasan/kebahagiaan sebagai pembenaran karena manusia tidak akan ada puasnya dan bahagia tidak sebegitu mahalnya. Intinya, semua barang-barang yang sifatnya pakai-simpan-beli lagi (padahal masih cocok dan bagus) akan menjadi rongsokan pada akhirnya. Maka sebaiknya kita harus bijak dalam berbelanja. Syukur alhamdulillah kalau punya banyak baju gara-gara endorse, tapi kalau harus beli yah sayang sekali uangnya. Mending buat ditabung. Ada hukumnya, bahwa Allah tidak suka dengan makhluknya yang berlebih-lebihan dalam hal apapun, kecuali dalam beribadah.

Kalau saya pribadi, masih bisa mengontrol diri kalau kaitannya dengan baju, sepatu dan tas. Hanya saja mulai agak liar nafsunya kalau sudah urusan belanja makeup, skin/body care dan segala pernak-pernik dekorasi rumah. Alasannya sih, karena kesemuanya itu adalah barang-barang habis pakai dan selalu di-pakai, tidak akan jadi rongsokan. Entah ini pembenaran atau bukan, as long as i can responsible with my money sih. Hehe.

No comments