Powered by Blogger.

Up Down 2015

Ada begitu banyak hal-hal bahagia yang terjadi ditahun 2015, pernikahan sahabat-sahabat, pernikahan Kakak saya yang dimana saya terlibat banyak dalam segala persiapannya; merasakan pressurednya, merasakan ketegangan saat menjelang akad nikah dan tentu bahagianya ketika semua rangkaian acara telah selesai. Alhamdulillah, my big brother was taken.

Satu tahun hidup jauh dari rumah banyak merubah pandangan saya. Terutama ketika saya merasakan "sedikit" masalah yang membuat saya berfikir sebegini beratkah hidup sebagai orang dewasa? Tapi sekali lagi, waktu dan kesungguhan dalam berusaha dan berdoa akan menyelesaikan semuanya. Kalau mengingat fase ini rasanya seperti ingin menangis, antara sedih dan haru. Saya bisa melewatinya dengan baik-baik saja sementara waktu itu saya benarbenar nyaris dibuat gila. It's okay, ada pelajaran yang bisa saya ambil dari sini. Bahwa jika kita tulus membahagiakan orang lain, mau tidak mau kita akan kecipratan bahagia.

Dalam urusan karir sendiri, akhirnya saya merasakan bagaimana peluhnya menjadi abdi negara. Rasanya seperti ingin mendamprat orang-orang yang bilang semua PNS itu magabut, buktinya saya mulai kewalahan dengan semua pekerjaan yang dibebankan. Lembur, lembur dan lembur.. tapi sekarang saya sudah mengerti bagaimana berkata tidak dan paham limit saya dalam bekerja. Tidak begitu ambil pusing jika saja penolakan saya itu akhirnya akan menghambat pertumbuhan karir saya, kare yang saya yakini adalah jika saya sudah bekerja bersungguh-sungguh maka tidak satu orang pun yang diberi-Nya hak menutup pintu rejeki saya. Sejauh ini, saya tak begitu punya target tentang akan jadi apa dan siapa saya diinstansi ini, just let it flow.. yang penting bisa mengejar kesempatan untuk kuliah lagi saya sudah syukur luar biasa.

Overall ada begitu banyak limpahan rejeki yang saya dapatkan, nikmat sehat, nikmat iman. Saya berterima kasih begitu besar. Alhamdulillahirabbilalamin. Dari sekarang dan untuk seterusnya, jika saya masih saja terus meminta dan meminta, itu bukan karena tiada rasa syukur, melainkan bahwa saya ini adalah lemah dihadapan-Mu. Rabb, ku.

2 comments

  1. Caam masya Allah rindunya.. Eh emang knp? Sakit cinta karena capa caam. Time is healer..

    ReplyDelete