Powered by Blogger.

Mutasi Pertama

Saya tidak pernah menyangka bahwa akhir dari lembur panjang terisolasi dalam rangka menyusun LK ķemarin akan menjadi sebegitu dramanya, mutasi depan mata.

Iya, hanya 1 tahun 3 bulan di Kota Parepare. Akhirnya saya mendapat kabar bahwa surat mutasi ke Kabupaten Pinrang sudah diterima atasan saya, mundur selangkah. Jauh, semakin jauh dari kota Makassar. Saya sedih, tentu saja. Saya kecewa, pasti. Lelah saya terkhianati. Maka saya menangis dan melampiaskan amarah saya. Lalu saya mengadu kepada Allah ta'ala. Kepada orang tua, kepada sahabat-sahabat dan kepada kepala kantor saya sendiri. Terlalu banyak kenapa dalam kepala saya.

But, life must go on. Saya berusaha mengambil hal positif. Mungkin, ada hikmah yang haŕus saya jemput sendiri ke Pinrang sana, sesuatu yang besar menanti saya, sesuatu yang akan mengejutkan saya luar biasa. Saya cukup merasa berharga dengan usaha Kepala kantor saya untuk mengajukan permohonan untuk revisi keputusan mutasi saya ke wilayah, atas marahnya beliau kepada orang-orang yang (barangkali) punya andil atas keputusan mutasi saya tanpa seizinnya.

Tidak ada yang salah dengan mutasi, pada beberapa kasus yang salah hanya "caranya". Seseorang merasa punya kuasa untuk mengatur jalan hidup orang lain, seolah dia lupa kalau ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Saya akan membuktikan kepada mereka, tanpa harus mendompleng nama orang tua saya bisa survive, bisa jadi orang dan seseorang. Tanpa harus menggeser saya bisa duduk. InsyaAllah. Orang kecil tidak selamanya kecil. Semua ada masanya, ada waktunya.

2 comments