Deal with sadness

Menjelang usia 30 tahun, begitu banyak hal yang saya rasakan berubah dalam pandangan saya. Salah satunya adalah bagaimana menyikapi suatu masalah. Sekarang ini ketika saya merasakan hal yang kurang menyenangkan, sebisanya saya menghindari gadget atau apapun yang membuat saya bisa berceloteh panjang tentang ketidaknyamanan yang saya rasakan. Update status, menulis blog atau sekedar sharing pada orang lain. Yang dimana kita tahu sendiri, yang seperti itu sama sekali tidak akan mengubah kondisi. Terkadang justru hanya membesarbesarkan masalah. Membuat hati semakin meradang. Padahal orang lain tidak perlu tahu seberapa menderitanya kita, seberapa keras usaha kita, biarkan mereka hanya melihat kebahagiaan dan kesuksesan kita.

Ini yang membuat saya kemudian tersadar bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya takdir buruk. Semua yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir baik, adanya keburukan yang kadang membuat kita menghela nafas panjang, menangis tersedu dan menggalau hanyalah bentuk ketidaksiapan manusia terhadap takdirnya sendiri. Kita manusia, punya ego punya rasa, punya keinginan atas hidup yang kadangkala tidak sejalan dengan takdir kita. Maka tumbuhlah rasa marah, rasa kecewa dan sedih berkepanjangan. Kesemuanya itu manusiawi, tapi dalam batas kewajaran.

Yang terbaik mungkin adalah ber-huz'nudzon dengan segala hal yang terjadi dalam hidup kita, memperbanyak ucapan Hamdalah sebagai bentuk rasa syukur yang begitu besar atas limpahan rahmat dan karunia Allah yang tak ada putusputusnya. Bisa bernafas, bisa makan 3kali sehari, bisa bayar utang dan bisa membahagiakan orang lain adalah nikmat yang tiada terkira bagi saya. Dan jika saya tetiba dilanda rasa lelah dan sedih pada satu fase hidup.. dalam hati saya bertanya pada diri sendiri; Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


/Pinrang.
  

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

1 comment: