Obrolan patah hati



Pada satu obrolan lepas saat menunggu shalat jum'at kemarin, seorang kawan bercerita banyak tentang kisah cinta hidupnya. Awalnya sih, dia hanya tibatiba nimbrung waktu saya dan seorang teman wanita ngobrol serius, lalu dia datang, dan penasaran dengan obrolan kami. Dikiranya kami sedang ngobrol soal hati, soal perasaan. Yang menurutnya obrolan macam itu sebenarnya butuh pemikiran lakilaki sebagai solusi. Saya membantahnya, menurut saya soal hati dan perasaan itu hanya bisa diselesaikan oleh hati sendiri bukan oleh ceramah orang lain, kami perempuan itu hanya butuh didengarkan, hanya butuh telinga. Tidak semua masalah butuh solusi, terkadang hanya butuh di rasakan dan dibiarkan. Hanya butuh dikeluarkan bersama air mata. Toh pada akhirnya, waktu akan mengambil alih. Time is the best healing for everythings, right?!

Masuk akal. Katanya. Lalu dia mulai bercerita tentang bagaimana ketika dia pertamakali jatuh cinta dan patah hati. Berangkat dari pengalaman pahit itulah yang membuat dia percaya bahwa terkadang masalah itu tidak butuh solusi. Karena memang tidak ada solusinya, selain berdamai dengan kenyataan. Se-tidaknyaman apapun itu. Ketika kamu pernah merasa bahwa orang bunuh diri ketika patah hati itu masuk akal, itu artinya kamu pernah merasakan patah hati keras, kamu benar-benar jatuh cinta. Dan jika, kamu tidak sampai melakukannya.. itu artinya imanmu menyelamatkanmu disaat kondisi logikamu sedang terpuruk. Allah still blessing you.

Butuh 5 tahun lamanya untuk bisa lepas dari bayang-bayang patah hati. Butuh berpuluh-puluh kali, bahkan ratusan kali curhat ke sembarangan orang. Butuh berkalikali percobaan negosiasi untuk kembali. Untuk ukuran laki-laki, terlalu lama. Hahaha. Dan akhirnya dia menikah dengan seorang yang membuat dia mengambil kesimpulan lain, bahwa jodoh itu luar biasa unik. Tak terduga-duga. Seperti apa kata orang-orang yang juga merasakannya. Saya sampai ketawa-ketawa. Bukan tidak percaya, tapi ya.. lucu saja. Dan perkara patah hati pun hilang tanpa jejak rasa, hanya sebatas ingatan. Kata dia, obat patah hati hanya ada dua: Waktu dan Jatuh cinta. Iyeeee, kite juga tau kaleee :p

Obrolan kami yang luar biasa dalamnya itu akhirnya ditutup dengan statement impulsif dari dia. Bagaimana bisa dia merasa bahwa hidup dia sekarang jauh lebih baik dan bahagia dari pada mantannya? Hanya dengan membandingkan status dan update-an pada laman facebook, dan pake ngotot pula. Entahlah, kita tidak bisa menebak isi hati seseorang hanya dari apa yang coba dia tampakkan dan dia sembunyikan. Dan lagi, bahagia itu bukan perlombaan. Bahagia ya bahagia, u feel it not to show it. Tidak perduli apakah ada orang yang lihat dan tahu, dan lalu bikin kamu harus selalu ngeshare semua moment di halaman pribadi tanpa jeda waktu #mulainyinyir


/Pinrang.

1 comment:

  1. Selamat Siang Mbak Syam,

    Saya sedang blogwalking dan menemukan blog anda.
    Saya Soraya dari http://serumah.com.
    Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat gencar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar/roommate agar orang-orang yang ingin menyewa rumah dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan pada awal tahun 2016.

    Saat ini saya membutuhkan bantuan anda untuk menuliskan artikel review mengenai serumah.com di situs blog anda. Kami sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkannya di blog anda.

    Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

    Soraya F.
    Cataga Ltd.
    soraya.serumah@gmail.com
    http://serumah.com/

    ReplyDelete

Powered by Blogger.