Jika saya adalah Presiden (1)

Judul diatas mungkin terdengar naif, sekedar berandai-andai tanpa ada selipan ambisi sedikitpun. Dan lagi, siapa juga yang mau repot-repot jadi Presiden? 

Well, berangkat dari perbincangan-perbincangan kecil antara saya dan pemikiran saya ketika melihat fenomena kota Makassar yang semakin hari semakin tak beraturan, jalanan yang sembrawut, manusia-manusia yang semakin hari pun semakin arogan, semakin semaunya, semakin “mau skali dibilang”, maka menurut saya dipandang perlu ada sedikit perhatian dari Presiden selaku pemangku jabatan dan kekuasaan tertinggi Negara yang dituangkan dalam peraturan tertulis yang diikuti dengan sanksi tegas atas pelanggarannya. Karena saya pribadi sudah amat sangat terlalu lelah dengan semuanya.
Hampir 2 tahun belakangan ini kemacetan mulai tak terbendung di Kota Makassar khususnya pada jam berangkat dan pulang kerja, saat weekend apalagi, TUMPAH. Apa pasal? Karena jumlah pertambahan kendaraan yang beredar di Kota Makassar tidak diiringi oleh perluasan/pelebaran Jalan.

Saat ini Industri otomotif sedang berjaya, semua dealer dari berbagai merek sedang gencar-gencarnya memproduksi Mobil dan Motor terbaru dengan harga yang cukup terjangkau. Hal ini sejalan dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik, sehingga mampu meningkatkan daya beli masyarakat pada barang-barang yang sifatnya complimentary-lux. Lupakanlah soal prestise/gengsi, nyatanya kepemilikan kendaraan bermotor ternyata mampu memberikan kenyamanan saat berada di Jalan raya yang tingkat stressnya mulai meninggi. Sementara disisi lain transportasi publik di Makassar tidak mampu memberikan apa yang dituntut oleh Masyarakat kelas menengah keatas.

Nah bayangkan saja, 2 atau 3 tahun kedepan. Jika daya beli masyarakat terus saja meningkat, target-target perusahaan dealer otomotif pun semakin menggila, ada supply and demand, sementara kondisi jalanan tidak juga di-dewasa-kan; tidak diperlebar atau di rancang sedemikian modern seperti misalnya kota Jakarta dengan jalan layangnya yang berlapis-lapis. Maka apa jadinya wajah kota Makassar? eh, by the way.. apa kabar yah soal penetapan PAJAK PROGGRESSIVE kemarin?

Belum lagi dengan kendaraan umum yang juga semakin banyak beredar. Pete-pete, becak, bentor, ojek, gojek, gocar, taxi, damri. Yang dimana sangat diketahui bahwa mereka punya rule sendiri-sendiri, amat sangat susah diatur dan ditaklukkan. Arogansi berbasis massa. Seharusnya pemerintah mengambil alih pe-recrutan sopir kendaraan umum, ya minimal ada standar Psikologi dan Emosi yang jelas untuk mereka biar tidak liar dijalan, koro-koroang, ugal-ugalan semaunya, tanpa mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan penumpang. Oh Allah, ampunilah saya yang tukang protes ini. Tapi kadang-kadang mereka memang brengsek. Coba saja menegur Petepete yang ugal-ugalan atau ngetam berjam-jam, pasti kita disuruh naik TAXI saja.

Hal lain, yang menyumbang kemacetan dijalan adalah Para penjaja barang dan Jasa di sepanjang bahu jalan maupun ditengah jalan. Semisal pedagang kaki lima yang seenaknya membangun kios, penjual-penjual yang menggunakan mobil parkir sebagai etalase, pedagang-pedagang dilampu merah jalan, dan pak Ogah yang entah semakin lama semakin membludak disetiap titiknya. Kembali lagi pada prinsip; Supply and Demand. Kenapa mereka tetap saja ada padahal tak sedikit orang yang mengeluhkan keberadaan mereka? Karena dihidup yang serba praktis ini jalan adalah lahan basah untuk menjajakan barang atau jasa yang mereka tawarkan, ada kok orang yang tetap protes tapi tetap memberikan receh ke pak Ogah, ada kok orang yang merasa terganggu dengan pedagang-pedagang pinggir jalan tapi kadang-kadang singgah juga membeli sesuatu karena kalau masuk pasar atau supermarket akan jauh lebih repot. Tidak mungkin ada pasar yang tetap survive jika pembelinya tidak ada. Semua masalah yang ada dijalanan saat ini benar-benar dari rakyat, untuk rakyat dan karena rakyat juga, sementara pemerintah terkait lamban menangani.

Saya tahu tidak mudah mengatur banyak hal yang melibatkan banyak orang dengan berbagai karakter didalamnya, tapi kalau itu sudah ditetapkan sebagai aturan baku, yang betul-betul diterapkan dan jelas sanksinya, cepat atau lambat semua orang akan menyesuaikan diri. Kalau di cermati lebih jauh, anak-anak di Jepang, Singapura, Hongkong dll.. itu tidak terlahir sedemikian kaku dan tahu aturan, tapi mereka dibiasakan untuk mentaati apa yang dilarang. Regulasinya jelas. Aturan itu mengandung edukasi, yang hanya perlu pembiasaan. Berulang-ulang, terus menerus. Sehingga menjadi karakter.

 /Gowa. 

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

0 Comment: