March 11, 2017

Hal yang saya pelajari dari Ego

Pada beberapa relationship  khususnya dua tahun belakangan ini  saya tidak pernah merasakan betul-betul jatuh cinta hingga akhirnya saya harus dihadapkan pada kehilangan. Otak saya mungkin berkata “tidak masalah syam.. all is well” tapi disaat yang bersamaan, sang otak mengirimkan sinyal yang meremukkan perasaan. Alhasil cuman nangis sama curhat yang bisa bikin semuanya lebih baik. Saya patah hati, siyal! Haha.

Padahal, jika semuanya masih baik-baik saja.. semisal si A atau si B masih memperlakukan saya semanis biasanya saya tidak akan pernah sadar bahwa saya membutuhkan mereka, walaupun saya tidak benar-benar ingin mereka menjadi bagian dari kehidupan saya. Mereka datang dan menempati tempat kosong yang belum saya biarkan benar-benar di-isi oleh siapapun juga, saya merasa nyaman, saya merasa dimanjakan dan itu semua sudah cukup bagi saya, sampai akhirnya saya yakin bahwa saya butuh lebih dari itu semua, saya ingin memiliki. Tapi, sadarnya saya selalu datang ketika mereka sudah tidak semanis biasanya. Siyal! Tak jarang saya menanyai diri saya, “apa saya inginkan si A atau si B?” tanpa perlu berfikir lama, saya menjawab “tidak”, tapi disaat yang sama saya merasa frustasi jika mereka tidak memberikan perhatian sebagaimana biasanya. Saya tahu, Ego sedang mempermainkan saya, dan saya yang bodoh ini mau-maunya saja dimainin.. errr, itulah terkadang yang bikin saya menyesal luar dalam.

EGO, ya.. saya tahu dari dulu bahwa saya satu dari sekian banyak orang yang memiliki Ego setinggi langit. Selalu merasa benar, selalu ingin dituruti.. dan ketika semua itu tak saya peroleh mendadak Ego yang setinggi langit itu meluncur turun secara drastis yang membuat saya justru menjadi orang yang minder, insecure dan bahkan cenderung arogan. I’m try to build my self defense… sedih banget kadang-kadang kalau saya menemukan diri saya sedang dalam kondisi seperti ini. Tapi, untuk sekarang ini saya merasa terlalu besarrr untuk bisa dikalahkan oleh Ego. Pelan-pelan, saya belajar untuk berdamai dengan segala tuntutan saya pada hidup, dan justru saat-saat seperti inilah Ego berbalik mengambil perannya mengajarkan saya banyak hal untuk bisa menjadi diri saya sendiri.

Kemudian saya menemukan bahwa Ego itu ada positifnya ada negatifnya. Ego itu positif ketika bisa meningkatkan rasa percaya diri dan tidak melulu merasa kecil dihadapan orang lain terlepas apapun bentuk kekurangan dan keterbatasan kita, Ego itu negatif ketika secara sadar atau tidak kita mulai menguasai dan merendahkan orang lain; seem’s like im okay.. you not okay! Dan itu amat sangat sombong jadinya. Better late than never kan yah, learning need a long process.. learning take a time.. pokoknya sekarang dalam segala hal saya banyak-banyak introspeksi diri, banyak mikir sebelum bicara/bertindak, banyak minta maaf, banyak mengalah, banyak memilah-milah penting atau tidak penting, and not to take things personally.. dan itu semua yang diajarkan Ego pada saya setelah sekian lama saya memanjakannya. Yah, namanya juga hidup harus lewatin yang pait-pait dulu. 

I ain’t much, baby – But I’m all I got..

No comments:

Post a Comment