Powered by Blogger.

Balada pengemis jalanan

Fenomena2 yg terjadi akhir2 ini menimbilkan banyak kejanggalan. Apa yang terjadi jika kemiskinan menimbulkan hoby baru dikalangan masyarakat kecil. Selain menjadi tuntutan hidup atau tak ada lagi pilihan lain, kini mengemis adalah suatu hoby yang sangat menguntungkan. mengapa tidak? hanya dengan bermodalkan baju lusuh, tanpang belepotan lagi sengsara ditambah lagi dengan tangan yang menengadah keatas, mereka telah mendapatkan sumber penghidupan bagi diri dan keluarganya.

Disini bukannya saya tidak memiliki rasa kepedulian sosial, tapi saya hanya mengungkapkan apa yang telah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Memang masalah sosial tidak boleh dilihat secara GeNeRaL tapi kita melihat ke PeRSoNaL mereka. Saya akui tidak semua pengemis mencari keuntungan dari kemiskinannya tapi hampir semua pengemis terlena dengan kemiskinannya. Maaf saja jika saya berani mengatakan bahwa pengemis bangga dengan kemiskinannya, karena dalam tindakannya seolah2 saya dapat menarik kesimpulan bahwa dalam hati mereka berteriak "Hei saya adalah orang miskin dan yang bertanggung jawab adalah kalian dan kalian wajib memberikan saya sedekah" buktinya tak jarang dari mereka meminta secara paksa dan bersifat aRoGaN bahkan satu dua orang datri mereka mengambil jalan MeRaMPaS.

Citra burk pengemis inilah yang menutup hati orang2 mampu untuk bersedekah. Lantas bagimana jalan keluar dari masalah ini?

Disaat mengemis tak lagi sebagai desakan kehidupan melainkan dianggap sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang halal saya berani bertaruh bahwa jumlah pengemis akan bertambah setiap tahunnya, bahkan mereka yang dari desa-pun akan berlomba2 datang kekota2 besar dan menjadikan NgeMiS sebagai ladang pencari uang yang tepat.

Pemerintahpun tak banyak berperan dalam masalah ini. Mereka hanya memberikan perintah poada aparat untuk membersihkan jalan dari para pengemis baik secara halus maupun secara pakasa. Selain itu mereka juga mengeluarkan imbauan pada masayarakat untuk tidak memanjakan pengemis dengan jalan jangan memberikan sepeser uang pada mereka yang nota benenya dianggap sebagai manusia pemalas, dan selebihnya NoL besar sampai sekarang tak ada jalan keluar yang mereka dapatkan untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Disisi lain “dermawan” pun tak kalah edannya, mereka menjadikan orang miskin sebagai sebagain ladang aKTuaLiSaSi DiRi dan mencari profit, menandakan jiwa2 kapitalis tumbuh subur dalam diri mereka. Melihat semua fenomena ini dapatkah anda meramalkan apa jadinya bangsa anda kedepan jika semua hal bernilai komersil dan semua orang hanyan ingin mencari keuntungan, dimana hati nuranipun mulai terabaikan?

Jujur saja sayapun tak bisa berbuat apa2 dengan masalah ini, karena ini merupakan masalah sosial yang akarnya adalah personal mereka. Jadi saya hanya bisa memberikan beberapa saran saja, saran saya hentikan perdebatan2 tentang kondisi kemiskinan negara ini, turunlah kejalan dan lakukan pendekatan2 secara personal dan persuasif kepada mereka yang tak menyadari bahwa mengemis bukanlah salah satu bentuk perjuangan hidup tapi merupakan kepasrahan hidup. Bukankah hidup merupakan sebuah perjuangan? Sayapun menuntut kalian yang membaca tulisan ini, tunjukkan tanggung jawabmu sebagai kaum intelektual pada khususnya dan manusia berhati nurani pada umumnya.


Yang terakhir, setujukah anda jika saya menggambarkan indonesia sebagai negara miskin yang dihuni oleh ratusan pengemis, dihiasi dengan ribuan gedung bertingkat dan dipadatkan dengan ribuan mobil mewah.

No comments