Powered by Blogger.

Introduce my new gun; Canon EOS M3


Ternyata saya butuh 3 tahun 1 bulan untuk menunaikan keinginan saya untuk memiliki kamera mirorrless seperti yang telah saya tuliskan di-Postingan ini. Fiuh. Tapi, seperti yang saya percaya dan yakini semua hal yang kejadian dan tidak kejadian itu dirancang sama Allah, sang pemilik skenario kehidupan.

Pada tahun-tahun saya tak ber-kamera, saya memang sedang dalam kondisi sibuk dengan karir baru dan, thight-budget. Itu sih yang utama. Hehe. Pun saat itu, entah kenapa saya tetap dikasih rasa puas memotret hanya dengan kamera handphone murahan. Percayalah, fotogerafi itu seni dan seni menomor kesekiankan alat. Most importan thing is, a taste. Sekali lagi t-a-s-t-e. Taste disini melingkupi bagaimana melihat suatu objek dari sudut pandang kita sendiri, dan lalu mengabadikannya dengan satu tekanan jempol. Apalagi sekarang, handphone sudah menyediakan banyak aplikasi filter foto yang semakin bisa memberi nyawa pada foto yang kita ambil. Yang hebat adalah, walau kameranya sama, jenis aplikasi+filter juga sama, kita tetap akan menemukan style kita sendiri dalam ber-foto. Percayalah. That's why i love photography so much.

Barulah dibulan April 2017, disaat saya sudah mulai merasa punya waktu luang untuk belajar lagi dan, punya budget lebih. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli kamera, tetap mirrorless, kamera ringkess dengan kemampuan tak kalah jauh dengan DSLR.

Saya lupa nama tokonya, tempatnya di Lt.4 MTC-Makassar. Saya membandingkan face-to-face kamera Canon Eos M3 - Fuji X-a3 - Sony Alpha6000. Kamera typical low-end, under 10jt. Kamera yang pertama saya singkirkan adalah Sony Alpha6000, karena: ukurannya terlalu besar menurut saya dan layarnya hanya bisa ditekuk sampai 45derajat saja. Lagi pula warna yang dihasilkan terlalu kuat, terlalu digital. Lalu pilihan tinggallah X-a3 dan Eos M3, sempat saya amat sangat ingin membawa pulang kamera X-a3 ini, karena setelah saya coba warna/tone yang dihasilkan lebih natural, dan dalam kameranya sendiri sudah built-in berbagai macam filter termasuk mode camera360 yang tersohor itu. Itu kelebihannya. Dibanding Eos M3, yang tanpa filter-filteran, yang ada di layar sama yang di jepret akan begitulah adanya. Selebihnya, hasil foto sama-sama jernih, sama-sama punya spesifikasi yang bikin makin mupeng, sama-sama punya layar narsis, alias flip sampai 90derajat.

Setelah membujuk diri-sendiri, saya lalu merasa bahwa filter itu nomor kesekian dalam kamera. Hiks. Harga Canon Eos M3 Vs. Fujifilm X-a3 pada saat itu selisih 2,6juta. Sementara saya sudah tidak sabaran untuk punya, sementara menurut saya 2,6juta itu bisa dipakai buat ini.. buat itu.. Sesi galau dimulai dari sini, lalu saya ingat pesan Ustad Salim A Fillah untuk belajar menghianati nafsu sendiri. Biar tidak manja "dia-nya". Lalu saya membayangkan Fuji X-a3, wow.. beyond my capability sebenarnya, tapi wow.. artis2 pake itu.. wow.. kalau nenteng kamera itu pasti kelihatan keren.. dan so many wow on my mind. Oke, saya deal untuk CANON EOS M3. Hiks.

Seminggu kemudian saya sempat sharing dengan seorang teman pengguna Sony Alpha6000. Dia sudah pakai selama 1thn, dia belinya juga diharga 10jt-an waktu itu, but so far.. tidak ada yang menarik, dan sekarang dia mau jual kamera itu untuk diganti dengan Fuji film X-a3. Padahal kalau kita baca semua review orang-orang yang memang pakar fotogerafi, semua akan mengatakan kalau spesifikasi Sony itu lebih diatas fuji diseri X-a. Fujifilm yang benar-benar tangguh itu di mulai dari series X-T yang harganya nyata-nyatanya hampir senilai 1 biji motor. Pokoknya, selalu ada ketidakpuasan, selalu ada rasa kurangnya dari apa yang sudah bisa dimiliki. Naturally sih, we are only human. Hihi. Tapi dari obrolan itu saya malah bersyukur, minimal kalau memang kamera saya tidak lebih baik dari fuji tidak apa.. toh lebih murah. Haha. DRAMA.

1 bulan bersama, saya mulai merasa nyaman memakai kamera baru saya. Masih butuh belajar lebih banyak memang; belajar pengaturan, fungsi semua tombol dan menu yang ada dikamera. Saya bergabung dibeberapa group dengan label kamera Canon M-series dan M3. So far saya cukup senang melihat foto-foto yang mereka hasilkan, cukup membuat saya berkata wow.. dan terpacu untuk belajar lebih banyak. Kembali lagi ke taste, kembali lagi ke filosofi photography yang paling benar;

    Is not about the gun, but man behind the gun.

 Thats's right, absolutely right!

Sebagai penutup saya mau share kelebihan dan kekurangan kamera Canon Eos M3 ini selama pemakaian. Untuk spesifikasinya, silahkan cari-cari di web sebelah yang memang bahas soal kamera secara mendetail. Untuk hasil foto bisalah diliat di-Instagram saya dan di-postingan blog ini sejak dari bulan April dan seterusnya. Well, kamera baru bikin saya lebih produktif menulis ternyata, when my imagination meet the soulmate, 😉

MINUS (-) :
  • Untuk orang yang tidak sabaran macam saya, Fokus kamera ini terasa lambat. Saya harus menekan tombol shutter agak lama, sambil memutar-mutar ring focusing, memutar focal length yang sesuai untuk bisa mengambil gambar.
  • Kamera tanpa view-finder membuat saya yang bermata minus ini kadang salah dalam menentukan fokus. Saya ngerasa udah fokus, pas di pindahkan ke-PC lah-kok salah fokus begini ya? Hadeh. Kesalahan yang begini biasanya saya lakukan saat foto outdoor disiang hari, mungkin karena silau, jadi penglihatan saya bias.
  • Ketika saya mengaktifkan wi-fi dan mengambil gambar via handphone, suhu kamera ini naik secara drastis dan disaat bersamaan daya baterainya pun menurun. Saya kira ini cuman kejadian di kamera saya, ternyata kebanyakan kamera yang menambahkan fasilitas wi-fi memang memiliki problem yang sama, disemua merek dan type..
  • Sometimes, warna yang dihasilkan kamera ini tidak natural. Unsur kuning dan orange-nya sangat kuat, utamanya diwaktu-waktu menuju matahari tenggelam. Butuh pengaturan berbeda untuk mement-moment berbeda sih memang.
  • Entah kenapa saya mulai khawatir dengan layar flip yang bisa di arahkan kedepan, 🤔

PLUS (+) :
  • Built in wi-fi. Wi-finya bisa dipakai buat kirim gambar dan sebagai remote live-view di hape.
  • Kualitas video oke punya, dan setelah saya cari-cari review kamera ini di Youtube memang kamera ini lebih diperuntukkan untuk para Vlogger, amat sangat populer bahkan. That's why saya mulai belajar untuk edit video, bukan untuk mau nampang sih sekedar meng-kolasekan video yang sempat terekam. Pelan-pelan saya juga mulai suka dengan gambar bergerak.
  • Dari banyak kekurangan yang saya jabarkan diatas, plusnya adalah bahwa kamera ini berukuran lebih kecil dan lebih murah dibanding merek sebelah yang se-tipe seperti yang saya ceritakan diatas. Haha. Dari dulu saya memang tidak gampang dipengaruhi merek ke-kinian, senyaman dan sedapatnya budget sajalah. Alasyaaaaaan. 😋

8 comments