Powered by Blogger.

31, tanpa 30.


Saya masih ingat hari dimana saya menuliskan catatan ini, pun dengan bagaimana perasaan saya  saat itu..

It's must be something to write. Bahwa semenjak saya memasuki U-30 kok ya saya merasa sesuatu sekali dengan diri saya. Lebih perasa, lebih uring-uringan, hadapin semua hal juga agak-agak tidak selow. Sepertinya asumsi saya tepat, U-30 adalah usia peralihan from fragile to mature, terlalu tua dibilang muda dan terlalu muda dibilang tua, tapinya yang kalau diperhatikan lebih lekat lagi, jatohnya membuat kelakuan saya cenderung menjadi lebih childish. Siap tidak siap, mau tidak mau, semua orang (insya-Allah) akan melewati fase ini, U-30. Fase menuntut sendiri, bingung sendiri, lalu nyerah sendiri. Belum lagi dengan status sendiri makin membuat semua semakin sempurna complicated-nya. Padahal jauh sebelum ini saya agak-agak legowo dengan segala apa yang terjadi dalam hidup saya, apapun itu. Tapi sekarang malah lebih sering rengek-rengek ke Allah biar mau saya di turutin. Dan entah sampai kapan virus U-30 ini akan menjangkiti saya, dan membuat saya menjadi orang annoying yang semakin kesulitan mendefinisikan diri sendiri, (17/11/2016).

Lucu juga menemukan catatan tentang bagaimana shocknya saya menghadapi usia kepala-3 ini. Tidak mudah, percayalah. Biasanya pada setiap tanggal kelahiran berulang, saya selalu berusaha berkontemplasi- mencoba memandangi hidup lebih intim dari biasanya. Saya melewatkan catatan 30 dengan perasaan gamang. Dan lalu, 31. Satu tahun sudah dan sekarang semuanya jauh lebih baik. Alhamdulillah.

Ada begitu banyak kegagalan, banyak pencapaian-pencapaian yang too amaze me, dan banyak mimpi-mimpi, harapan yang masih numpuk di kepala. Masih banyak hal sia-sia yang saya lakukan, masih banyak kesempatan yang saya lewatkan; masih malas ibadah, malas belajar, malas olah raga, dan makan masih sembrawut. Padahal saya tahu, butuh sehat jiwa dan raga untuk tetap anggun menjalani hidup. Tapi, rasa malas itu terlalu melenakan. Huft.

Sejauh ini semuanya terasa begitu istimewa. Allah Loves-me and blessed-me, unconditionally. Fabi ayyi ala i rabbikuma tukazziban.. Oleh karena itu, saya memaafkan diri saya untuk segala kejadian-kejadian yang jika diingat-ingat lagi begitu menyesakkan dada. Perkataan-perkataan yang tidak semestinya terucap. Patah hati –patah hati sepeleh. Perasaan kecewa karena harapan yang tak sesuai kenyataan. Cukuplah menjadi pelajaran berharga, lalu berfokus pada hal-hal positif dan membahagiakan saja, karena bahagia adalah kata kerja bukan kata sifat maka harus di-usahakan. Dan karena itu saya mendukung diri saya untuk meraih segala mimpi-mimpi yang masih bergelantungan, untuk hidup yang lebih baik. Jika itu benar baik adanya, saya percaya Allah pasti akan memberikan petunjuk-Nya dan membukakan jalan-Nya. Seluas-luasnya, sebesar-besarnya. 

Sometimes, I love to look back and see how far I’ve gone. But, I know.. life is journey without a finish. I need to keep going, I need to keep growing...  

Selamat 31 tahun, dearest.
Semoga; keberuntungan itu, cinta itu, masih selalu memeluk kita erat.


Dari saya untuk saya;
Dengan cinta;
SYAM

2 comments