Powered by Blogger.

Amanah


Hal yang paling saya tunggu dengan rasa was-was selama kurang lebih sebulan belakangan ini adalah keputusan apakah saya akan kena Mutasi lagi atau tidak. Sejak lama, saya memang ingin pindah tugas kewilayah yang lebih dekat dari rumah, dekat dari keluarga, dekat dari sahabat-sahabat, dari Moll, hehe.. tapi dilain sisi saya juga khawatir jika saja keputusan pindah saya akan membawa saya ke wilayah yang lebih jauh dari rumah.

 Isu Mutasi yang berkembang kali ini lebih berat dari sebelumnya, dibalik Mutasi ada amanah yang ikut besertanya. Promosi. Bahwa saya akan mengemban tugas baru yang akan lebih berat dari sebelumnya. Yang hanya dengan memikirkannya saya dibuat migrain, vertigo, insomnia, dan galau berhari-hari sepanjang hari. Ada rasa takut yang tak bisa terbahasakan yang mengalahkan rasa bangga dan kagum pada diri sendiri. Saya hanya bisa berdoa dan menangis sejadi-jadinya, meminta orang-orang baik yang ada disekitar saya untuk mendoakan yang terbaik untuk saya.



Dalam tulisan ini, saya pernah menceritakan kebimbangan saya tentang tawaran-tawaran yang ada. Dan, pada akhirnya saya memilih untuk menerimanya. Saya memilih untuk memasuki tempat baru lagi, keluar dari zona nyaman selama kurang lebih 1 tahun belakangan di Pinrang, bersama rekan kerja dan atasan yang amat-sangat memudahkan hidup dan pekerjaan saya. Setelah mutasi pertama yang begitu mengurai air mata serta rasa kecewa yang amat sangat dalam, saya pun berjanji pada diri saya untuk lebih kuat menerima keputusan terkait dengan karir saya kedepannya. Untuk selalu diingat, diawalnya saya menandatangani surat pernyataan siap ditempatkan dimana saja diseluruh wilayah NKRI, diatas materai Rp.6.000,- secara sadar dan dengan berucap Bismillah, berharap Allah melindungi saya atas pilihan saya.

Man proposes, God disposes.
Manusia hanya bisa berencana, dan Allah-lah sang maha penentu. 14 Juni 2017, putusan itu akhirnya dibacakan juga. Nama saya tidak ada dalam surat panggilan pelantikan untuk wilayah Gowa-Makassar-Maros-Pangkep. Dan lalu terdengar kabar nama saya juga tidak ada di Takalar-Jeneponto-Bantaeng. Pupus sudah (sedikit) harapan-harapan naif saya. SK-pun datang dan ternyata saya.. (huft) tidak akan kemana-mana, Saya masih harus mengabdi di Kabupaten Pinrang dengan amanah yang lebih besar dari sebelumnya, saya masih harus melalui perjalanan 5jam Gowa-Pinrang setiap week-end tiba. Ajaibnya, saya justru tidak merasakan kecewa dan tidak menitikkan air mata. Saya menerimanya, dengan lapang dada bahwa inilah hasil dari banyak doa orang-orang baik yang terlantun untuk saya. Karena, selain ber-doa dan percaya dengan konsep keberuntungan, "prajurit kecil" macam saya bisa apa?


16 Juni 2017, pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pelaksana sekaligus lepas sambut diselenggarakan. Kami harus kehilangan banyak pejabat lama yang harus bertugas ditempatnya yang baru, dan kedatangan pejabat baru sebagai pengganti. Dan akhirnya, air mata saya mengalir diam-diam saat saya ikut serta menyatakan sumpah jabatan dibawah Al-Quran dan disaksikan oleh begitu banyak pasang mata. Yang tertulis tak semudah yang terlihat memang, hanya berharap semoga Allah membersamai saya, semoga Allah melindungi saya. Selalu.


Yang saya yakini, Amanah tidak akan pernah salah memilih pundak. Karena ia datangnya dari langit, bukan dari manusia. Manusia hanya perantara kehendak Allah. Seperti yang dikatakan oleh Uncle Ben pada Peter Parker dalam film Amazing Spiderman; If you could do good things for people, you have a moral obligation to do those things. Not a choice, a responsibility!


Bismillahirrahmanirrahim.

Destiny, here i am.. 😊

No comments